Liputan6.com, Jakarta - Rajin sikat gigi ternyata belum cukup untuk memastikan kesehatan gigi dan mulut tetap terjaga. Meski sekitar 95 persen masyarakat sudah menyikat gigi, masih ditemukan kekeliruan dalam cara dan waktu melakukannya.
Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PBPDGI), drg. Tari Tritarayati, SH., MH.Kes., mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membahas kesehatan gigi masyarakat Indonesia.
Advertisement
Di sisi lain, berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan data Cek Kesehatan Gratis (CKG) terbaru, terdapat tiga masalah gigi yang paling banyak ditemukan, yakni karies atau gigi berlubang, penyakit periodontal atau masalah gusi, serta kehilangan gigi permanen.
"Kalau kita kembali lagi yang paling benar itu kita melihat data ya. Data itu dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan CKG yang paling terakhir. CKG itu menunjukkan paling tinggi adalah karies, kemudian penyakit periodontal atau gusi, dan kehilangan gigi," kata Tari kepada Kesehatan Liputan6.com di sela-sela Peresmian Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2026 di SD Negeri Menteng 01, Jakarta pada Kamis, 17 September 2026.
Tiga Masalah Gigi yang Banyak Ditemukan
Karies menjadi masalah gigi yang paling banyak ditemukan, disusul penyakit periodontal atau gangguan pada gusi. Masalah berikutnya adalah kehilangan gigi permanen.
Yang menarik, kehilangan gigi tidak hanya terjadi pada kelompok lanjut usia. Menurut Tari, kondisi tersebut juga ditemukan pada kelompok usia yang lebih muda.
"Yang ketiga adalah masalah kehilangan gigi. Jadi banyak yang tidak punya gigi lengkap lagi dari usia katakan remaja sampai lansia," tambahnya.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan gigi perlu dilakukan sejak usia dini. Gigi permanen yang sudah hilang tentu tidak dapat kembali seperti semula sehingga pencegahan menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
95 Persen Sudah Sikat Gigi Tapi Masih Keliru
Kebiasaan menyikat gigi sebenarnya sudah dilakukan oleh sebagian besar masyarakat. Namun, persoalannya bukan hanya apakah seseorang menyikat gigi, melainkan bagaimana dan kapan kebiasaan tersebut dilakukan.
"95 persen masyarakat itu sudah menyikat gigi dengan baik, tapi survei kesehatan gigi juga membuktikan bahwa cara menyikat giginya salah, waktunya juga," katanya dalam sesi talkshow.
Lebih lanjut, dia, menambahkan,"Tadi juga ditanyakan kepada anak-anak (sekolah dasar) 'siapa yang menyikat gigi pagi' semua angkat tangan. Namun, ketika ditanya 'siapa yang menyikat gigi setelah sarapan' tidak ada yang angkat tangan. Jadi, itu suatu hal yang menunjukkan bahwa waktunya juga tidak tepat."
Oleh sebab itu, masyarakat disarankan menyikat gigi setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam. Menyikat gigi sebelum tidur menjadi penting karena aliran air liur (saliva) menurun ketika seseorang tidur.
Dengan kondisi tersebut, sisa makanan yang masih tertinggal di dalam mulut dapat mendukung pertumbuhan bakteri yang berpotensi merusak gigi.
Jangan Tunggu Gigi Sakit untuk Periksa
Selain memperbaiki kebiasaan menyikat gigi, masyarakat juga perlu mengubah pola pikir dari mengobati ketika sakit menjadi melakukan pencegahan.
Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI), Dr. drg. A. Tajrin, M.Kes., Sp.B.M.M., Subsp.C.O.M(K), menyarankan pemeriksaan gigi dilakukan secara rutin setiap tiga hingga enam bulan.
"Perbanyak minum air putih, lalu yang penting adalah cek gigi secara rutin. Sebenarnya paling lambat 6 bulan, dan bisa per 3 bulan," kata Tajrin.
Pemeriksaan rutin dapat membantu dokter gigi menemukan gangguan sejak dini. Dengan begitu, masalah yang muncul bisa segera diketahui dan ditangani.
Selain pemeriksaan, kebiasaan menyikat gigi pada waktu yang tepat serta mengonsumsi makanan berserat juga dapat membantu menjaga keseimbangan bakteri baik atau oral microbiome di dalam mulut.