Rutin Pakai Obat Kumur Timbulkan Risiko? Ini Kata Ahli

Penelitian dan sejumlah ahli membagikan tanggapannya mengenai pemakaian obat kumur.

Diterbitkan 13 September 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemakaian obat kumur memicu sejumlah pertanyaan. Salah satunya apakah dapat menganggu mikrobioma mulut dan memicu masalah kesehatan serius? Tak hanya pertanyaan, ada juga menyebutkan penggunaan obat kumur secara rutin dapat membasmi bakteri “baik” di dalam mulut. Lalu apakah benar demikian?

Mengutip Channel News Asia, Minggu (13/9/2026), penelitian menunjukkan mulut merupakan tempat bagi keseimbangan mikroba yang rentan, termasuk bakteri yang jika keseimbangannya terganggu dapat berdampak pada kesehatan keseluruhan.

Namun, benarkah obat kumur dapat menyebabkan semua itu? Profesor Periodontik dan Kedokteran Mulut di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Michigan, Dr Purnima Kumar menuturkan, pemakaian obat kumur yang dijual bebas sesekali saja, misalnya seminggu atau sebulan kali, kemungkinan besar tidak akan merusak kesehatan mulut maupun kesehatan tubuh secara umum.

Akan tetapi, menurut dia, berkumur dengan jenis obat kumur tertentu berkali-kali dalam sehari selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dapat menimbulkan dampak buruk.

“Apakah saya menyimpan sebotol obat kumur di dekat sikat gigi saya? Tentu saja. Namun, apakah saya menggunakannya setiap hari? Tentu tidak,” ujar Dr Kumar.

Obat kumur umumnya terbagi menjadi dua kategori: obat kumur terapeutik, yang mengandung bahan aktif pembunuh bakteri serta membantu mengatasi masalah gigi umum seperti bau mulut, penyakit gusi, dan gigi berlubang; dan obat kumur kosmetik, yang hanya menyamarkan bau mulut untuk sementara dan memberikan rasa segar di mulut, tetapi tidak mengandung bahan aktif pembunuh kuman.

 

 

Tujuan Perawatan Mulut

Profesor madya periodontik di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Maryland, Dr. Vivek Thumbigere-Math menuturkan, tujuan perawatan mulut yang baik adalah menyingkirkan bakteri berbahaya penyebab masalah gigi umum sekaligus mempertahankan bakteri bermanfaat yang mencegah masalah itu.

“Menyikat gigi, menggunakan benang gigi (flossing), dan menjalani pembersihan gigi secara rutin dapat membantu mencapai tujuan tersebut,” tutur dia.

Namun, sejumlah penelitian terbatas dan penelitian terbaru menemukan jenis obat kumur tertentu, terutama obat kumur terapeutik yang mengandung antiseptik klorheksidin (yang di Amerika Serikat hanya bisa diperoleh dengan resep dokter)—dapat mengubah mikrobioma mulut serta sebagian fungsi normalnya.

Sebagai contoh, dalam sebuah uji coba berskala kecil yang dipublikasikan pada 2020, 36 orang dewasa sehat di Inggris berkumur dua kali sehari selama tujuh hari menggunakan obat kumur plasebo, lalu melakukan hal yang sama dengan obat kumur yang mengandung klorheksidin.

 

Sejumlah Penelitian

Para peneliti melaporkan, penggunaan obat kumur klorheksidin dikaitkan dengan "perubahan besar pada mikrobioma mulut," serta kondisi mulut yang lebih asam (yang dapat meningkatkan risiko gigi berlubang) dan berkurangnya jumlah bakteri yang berkaitan dengan tekanan darah yang sehat.

Belum jelas apakah bahan antiseptik lain yang terdapat dalam obat kumur yang dijual bebas, seperti cetylpyridinium chloride, minyak esensial, yodium, atau hidrogen peroksida dapat mengubah mikrobioma sebesar klorheksidin.

Menurut Dr. Richard Nejat, ahli periodonsia di New York City, logika dan beberapa penelitian terbatas mengisyaratkan hal tersebut mungkin saja terjadi jika digunakan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, sebaiknya hindari penggunaan produk-produk tersebut untuk waktu yang lama kecuali jika Anda perlu menangani masalah gigi tertentu.

Semakin banyak bukti menunjukkan gangguan pada mikrobioma mulut dapat memengaruhi kesehatan kardiovaskular. Dr. Kumar menjelaskan, bakteri mulut mengubah nitrat dari makanan menjadi oksida nitrat, yang berfungsi melemaskan pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah.

Beberapa penelitian juga menemukan adanya kaitan antara penggunaan obat kumur secara rutin (misalnya dua kali sehari selama bertahun-tahun) dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan tekanan darah tinggi. Namun, menurut Dr. Thumbigere-Math, studi-studi tersebut memiliki banyak keterbatasan dan belum membuktikan adanya hubungan sebab-akibat.

Para ahli menyatakan, cairan kumur yang berbahan dasar alkohol atau peroksida juga dapat mengiritasi gusi, lidah, bagian dalam pipi, dan jaringan lunak lainnya. Selain itu, kandungan seperti minyak esensial atau bahan pembusa dapat menyebabkan rasa perih, luka sariawan, atau dalam kasus ekstrem, pengelupasan lapisan dalam mulut.

 

Memilih Obat Kumur yang Tepat

"Jika Anda memang perlu menggunakan obat kumur, misalnya karena direkomendasikan atau diresepkan oleh dokter gigi, sebaiknya pilihlah produk yang ditujukan untuk mengatasi masalah spesifik, alih-alih produk yang mengklaim dapat menangani berbagai masalah sekaligus dengan beragam bahan aktif,” ujar Dr. Thumbigere-Math.

Ia mencontohkan, jika Anda memiliki risiko tinggi mengalami gigi berlubang, penggunaan obat kumur yang mengandung fluoride mungkin bermanfaat bagi Anda. Atau, jika Anda mengalami mulut kering, penggunaan cairan kumur dengan kandungan yang dirancang untuk merangsang produksi air liur atau meniru fungsi air liur bisa sangat membantu.

Pasien yang untuk sementara waktu tidak dapat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi (flossing) seperti biasa, termasuk setelah menjalani prosedur gigi tertentu juga dapat memperoleh manfaat dari penggunaan obat kumur terapeutik, ungkap Dr. Nejat.

Obat kumur berfluoride bisa jadi lebih aman untuk penggunaan jangka panjang dibandingkan obat kumur antiseptik, kata Dr. Nejat, karena cara kerjanya terutama memperkuat email gigi, bukan membunuh bakteri.