IDAI Soroti Lonjakan Virus Influenza dan Risiko Influenza A

IDAI mendorong pemetaan virus influenza, terutama influenza A, untuk mewaspadai risiko pada anak.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 21 September 2026, 11:30 WIB
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong pemetaan penyebaran virus influenza, terutama influenza A. Anak menjadi kelompok rentan karena angka kejadian influenza lebih tinggi dibandingkan dewasa. (copyright Unsplash/National Cancer Institute)

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp. H. Onk (K), mendorong penelusuran wilayah yang mengalami lonjakan kasus virus influenza, terutama influenza A, di Tanah Air.

Pemetaan diperlukan guna mengetahui pola penyebaran virus sekaligus membantu tenaga medis memberikan penanganan yang tepat. "Yang tentunya berbahaya pada sebagian kelompok berisiko," katanya dikutip dari Antara pada Senin, 21 September 2026.

Menanggapi isu kenaikan kasus influenza di berbagai wilayah Indonesia, Hikari mengatakan bahwa berdasarkan pantauannya, memang terjadi lonjakan kasus di sejumlah ruang perawatan anak di rumah sakit yang berada di kota-kota besar. Namun, dia tidak menyebutkan wilayah maupun jumlah kasus secara spesifik.

Menurut Hikari, pemetaan tersebut penting untuk membantu tenaga medis memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan gejala dan tingkat keparahan pasien.

Influenza menjadi salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak yang termasuk kelompok rentan.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Prof. Dr. Dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K), menambahkan, berdasarkan data Kantor Regional WHO Pasifik Barat (WHO WPRO) per 10 September 2026, sejumlah negara di Asia Tenggara mengalami peningkatan kasus influenza.

Anggraini menyebutkan bahwa tingkat kasus influenza di Singapura berfluktuasi pada kisaran 24 hingga 37 persen dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut juga disertai tingginya kasus positif COVID-19.

"Kita tahu bahwa orang-orang yang bekerja di perkotaan memerlukan perjalanan bisnis ke Singapura, sehingga itu jadi penyebab lonjakan seluruhnya," kata Anggraini.

Di Brunei Darussalam, peningkatan kasus mencapai 28 persen dari sebelumnya sekitar 12 persen. Sementara itu, tingkat positif influenza di Malaysia dalam beberapa pekan terakhir berada di kisaran 19 hingga 20 persen.

Adapun di Vietnam, tingkat kasus influenza meningkat dari 7 persen menjadi 20 persen.

Meski terjadi peningkatan di sejumlah negara Asia Tenggara, Anggraini menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan, sejauh ini belum terdapat lonjakan kasus yang mengkhawatirkan di Indonesia.

"Dibandingkan September 2026 dengan September tahun lalu memang kami tidak melihat adanya suatu lonjakan yang tinggi sebagaimana yang diperlihatkan oleh negara tetangga kita," ujarnya.

Meski demikian, Anggraini mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap anak-anak.

Indonesia memiliki sejumlah bandara yang menjadi pintu masuk dan tempat berkumpulnya orang dari berbagai belahan dunia, sehingga risiko penyebaran virus dapat semakin luas.

Anak-anak termasuk kelompok yang rentan terhadap influenza karena angka kejadiannya masih lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa.

Anggraini menyebutkan bahwa sekitar 5 persen anak yang mengalami influenza memerlukan rawat inap. Dari 80 persen kasus yang ditemukan pada anak, sebagian besar terjadi pada anak berusia di bawah 2 tahun, dengan 50 persen di antaranya berusia di bawah 6 bulan.

Dia juga menyebutkan bahwa anak berusia di bawah 5 tahun memiliki angka kematian yang lebih tinggi akibat influenza.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya