Hailey Bieber Alami PMDD Setelah Melahirkan, Kenali Gejala dan Penanganannya

PMDD membuat Hailey Bieber mengalami perubahan emosi lebih intens. Kenali gejala dan penanganannya.

Diterbitkan 05 November 2026, 06:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Model sekaligus pengusaha Hailey Bieber mengungkap pengalaman kesehatannya setelah menjadi ibu. Istri Justin Bieber ini mengaku mengalami Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) atau gangguan disforik pramenstruasi setelah melahirkan putranya, Jack Blues.

Hailey mengatakan dirinya didiagnosis mengalami PMDD sekitar enam bulan setelah persalinan. Kondisi tersebut membuat gejala emosional menjelang menstruasi terasa jauh lebih intens dibandingkan sebelum hamil.

Dalam wawancara dengan Women's Wear Daily yang dikutip People, Hailey mengaku masih kesulitan menghadapi kondisi tersebut setelah melahirkan.

"Setelah melahirkan, saya mengalami kesulitan dengan kondisi itu, dan memang tidak banyak percakapan atau penelitian mengenai hal tersebut," kata Hailey.

Pengalaman menjadi ibu juga membuat Hailey semakin tertarik pada isu kesehatan perempuan, terutama perubahan fisik dan emosional selama kehamilan hingga setelah persalinan.

Dia berharap keterbukaan mengenai persoalan kesehatan perempuan dapat membuat mereka yang mengalami kondisi serupa merasa tidak sendirian.

"Percakapan, bagi saya pribadi, membuat saya merasa tidak terlalu sendirian. Ketika kita bisa saling memahami dan membicarakan hal-hal yang sedang dihadapi, perjalanan ini terasa tidak terlalu sepi," ujarnya.

Lantas, apa itu PMDD, bagaimana gejalanya, dan seperti apa penanganannya?

Apa Itu PMDD?

Mengutip Johns Hopkins Medicine, PMDD merupakan bentuk sindrom pramenstruasi (PMS) yang lebih berat. Kondisi ini dapat dialami perempuan dalam usia reproduktif dan membutuhkan perhatian serta penanganan medis.

Penyebab pasti PMDD belum diketahui. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan respons tubuh yang lebih sensitif terhadap perubahan hormon selama siklus menstruasi.

Perubahan hormon tersebut dapat memengaruhi aktivitas serotonin, yaitu zat kimia alami di otak yang berperan dalam mengatur suasana hati. Hal ini diduga ikut memicu gejala emosional yang lebih berat pada penderita PMDD.

Gejala PMDD Lebih dari Sekadar Perubahan Suasana Hati

Gejala PMDD umumnya muncul satu hingga dua minggu sebelum menstruasi dan mulai mereda beberapa hari setelah menstruasi dimulai.

Berbeda dari PMS biasa, gejala PMDD dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga hubungan sosial. Beberapa gejala emosional yang dapat muncul meliputi:

  • Suasana hati tertekan, sedih, atau merasa putus asa.
  • Kecemasan berlebihan dan mudah tersinggung.
  • Perubahan suasana hati yang drastis.
  • Mudah menangis atau marah.
  • Merasa kewalahan atau kehilangan kendali.
  • Kesulitan berkonsentrasi.
  • Kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasanya disukai.

PMDD juga dapat menimbulkan keluhan fisik, seperti payudara membengkak atau nyeri, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, perut kembung, serta perubahan nafsu makan dan pola tidur.

Bagaimana PMDD Didiagnosis dan Ditangani?

Diagnosis PMDD dilakukan melalui evaluasi medis terhadap gejala dan pola kemunculannya selama siklus menstruasi. Dokter dapat meminta pasien mencatat gejala yang dialami untuk membantu memastikan diagnosis.

Penanganannya disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala dan kondisi masing-masing pasien. Beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan meliputi perubahan pola makan, olahraga teratur, serta pengelolaan stres melalui relaksasi dan meditasi.

Dokter juga dapat meresepkan obat, seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), obat antiinflamasi, atau pil kontrasepsi hormonal. Suplemen tertentu, seperti vitamin B6, kalsium, dan magnesium, juga dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan anjuran tenaga medis.

Pada sebagian orang, PMDD dapat berlangsung dalam jangka panjang hingga menopause. Oleh sebab itu, pemantauan dan penyesuaian pengobatan mungkin diperlukan agar gejalanya tetap terkendali.

Â