Liputan6.com, Jakarta - Anak yang selalu ingin dekat dengan ibu sering kali membuat orang tua bertanya-tanya. Mulai dari menangis saat ibu pergi, terus mengikuti ke mana pun ibu bergerak, hingga minta digendong atau ditemani hampir sepanjang waktu.
Perilaku tersebut sebenarnya berkaitan erat dengan kebutuhan anak untuk merasa aman dan membangun hubungan dengan orang yang merawatnya.
Advertisement
Melansir Distinct Healthcare, Rabu (23/9/2026), kedekatan dengan ibu atau pengasuh merupakan bagian penting dari proses perkembangan anak, terutama pada masa awal kehidupan.
Sejak lahir, bayi memiliki kemampuan bertahan hidup yang masih sangat terbatas. Mereka belum bisa mencari makanan, mengatur kondisi tubuh sendiri, bergerak dengan bebas, maupun menghindari berbagai bahaya di lingkungan.
Karena itu, ketergantungan pada orang dewasa menjadi bagian penting dari proses bertahan hidup. Beberapa minggu setelah lahir, bayi juga mulai mengenali wajah, aroma, dan suara ibu.
Ketika kedekatan tersebut terganggu, bayi dapat menangis, mencari kontak fisik, atau berusaha kembali mendekati ibunya. Respons ini menjadi salah satu cara anak mempertahankan kedekatan dengan sosok yang memberikan perawatan.
Begini Cara Anak Membangun Ikatan
Seiring bertambahnya usia, anak mengembangkan berbagai kemampuan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua.
Ketika mulai bisa bergerak, misalnya, anak dapat mengikuti orang tua dengan merangkak atau berjalan. Tersenyum, meniru perilaku, menangis, hingga mulai berkomunikasi dengan orang dewasa juga menjadi bagian dari proses membangun hubungan.
Respons orang tua terhadap perilaku tersebut ikut membentuk rasa aman pada anak.
Ketika ibu mampu mengenali emosi anak dan meresponsnya melalui perkataan, ekspresi, sentuhan, pelukan, maupun tindakan merawat, anak secara bertahap belajar memahami perasaannya sendiri.
Pengalaman tersebut membantu membangun rasa aman sekaligus pola hubungan yang dapat memengaruhi cara anak menjalin hubungan dekat ketika dewasa.
Lama-Lama Anak Akan Belajar Tidak Selalu Bergantung pada Ibu
Meski begitu, anak tidak selamanya membutuhkan kehadiran ibu setiap saat untuk merasa aman.
Seiring berkembangnya rasa aman yang terinternalisasi, anak secara bertahap dapat menerima ketika ibu tidak berada di dekatnya tanpa mengalami kecemasan seperti sebelumnya.
Proses ini dipengaruhi berbagai faktor, termasuk temperamen anak dan pola keterikatan ibu sendiri.
Anak dengan respons emosi yang lebih intens atau kemampuan beradaptasi yang lebih rendah dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun rasa aman tersebut.
Beberapa anak dengan gangguan perkembangan juga dapat mengalami kesulitan membangun keterikatan yang aman sehingga terlihat sangat melekat pada ibu atau pengasuh.
Tak Perlu Selalu Dituruti
Menghadapi anak yang terus menempel memang membutuhkan keseimbangan. Orang tua sebaiknya tidak berlebihan dalam merespons, tetapi juga tidak mengabaikan kebutuhan emosional anak.
Memahami perasaan anak bukan berarti selalu memenuhi semua keinginannya. Orang tua tetap dapat menetapkan aturan dan batasan secara konsisten.
Untuk anak yang secara perkembangan mampu membangun hubungan tetapi sedang mengalami kecemasan berpisah atau memiliki temperamen sensitif, orang tua dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk mendampingi dan merespons emosinya.
Ketika harus pergi, orang tua juga sebaiknya memberi tahu anak terlebih dahulu dan memberikan kesempatan untuk menenangkan diri.
Sebaliknya, pergi tanpa berpamitan justru dapat membuat anak semakin cemas karena merasa kepergian orang tua tidak dapat diprediksi.
Jika kelekatan berlangsung sangat lama, jauh melebihi kondisi yang dianggap wajar, atau disertai keterlambatan pada kemampuan perkembangan lainnya, orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi tersebut tidak semata-mata merupakan masalah ibu atau bentuk “kenakalan” anak. Situasinya perlu dilihat dari kondisi anak sekaligus orang yang merawatnya.
Kenapa Anak Bisa Lebih Lengket dengan Ibu daripada Ayah?
Sebagian anak terlihat lebih melekat pada ibu dibandingkan ayah. Hal ini dapat berkaitan dengan siapa yang lebih banyak terlibat dalam pengasuhan sejak anak lahir.
Kondisi tersebut juga dapat dikaitkan dengan kontak fisik antara ibu dan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan.
Dalam banyak keluarga, ibu menjadi sosok yang paling sering mendampingi anak. Oleh sebab itu, kedekatan emosional dapat terbentuk lebih kuat.
Namun, setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda. Anak yang lebih banyak diasuh oleh pengasuh atau anggota keluarga lain juga dapat membangun ikatan emosional yang kuat dengan sosok tersebut.
Begitu pula dengan ayah. Ketika lebih aktif terlibat dalam pengasuhan dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak, ayah dapat menjadi sosok utama tempat anak mencari rasa aman dan kedekatan emosional.
Pada akhirnya, anak yang terus ingin berada di dekat ibu bukan sekadar soal “manja”. Kedekatan tersebut merupakan bagian dari proses anak belajar merasa aman sebelum akhirnya mampu menghadapi jarak, beradaptasi, dan tumbuh menjadi lebih mandiri.
Seperti gagasan psikoanalis Donald Winnicott, ketika melihat seorang bayi, orang dewasa juga perlu melihat sosok ibu yang merawatnya.
Kedekatan yang dibangun pada masa awal kehidupan pada akhirnya menjadi bagian dari proses anak untuk mampu bertahan ketika jauh dari pengasuh dan menjadi lebih mandiri saat tumbuh besar.