Anak Curhat Sedang Stres, Orangtua Harus Apa?

Anak yang mengungkapkan dia stres, tetap perlu ditelusuri penyebabnya.

Diterbitkan 01 November 2026, 12:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anak-anak generasi Alpha kini semakin akrab dengan istilah stres. Sebagian juga sudah berani mengungkapkan ke orangtua: aku stres. 

Menurut Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany, penggunaan istilah stres oleh anak tidak serta-merta menunjukkan bahwa mereka lebih rentan mengalami gangguan psikologis dibandingkan generasi sebelumnya.

“Anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan digital dengan akses informasi luas sehingga lebih sering terpapar istilah psikologis melalui media sosial dan pergaulan," kata Yulina dikutip dari laman IPB.

Meski begitu orangtua perlu merespons dengan tepat bila anak curhat dan mengatakan 'Aku stres'.

"Ketika anak mengatakan ‘Aku stres’, respons pertama orang tua sebaiknya adalah mendengarkan dan mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak, bukan langsung memberikan penilaian atau nasihat,” jelasnya.

Stres merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi tekanan atau tuntutan tertentu. Pada anak, tekanan dapat berasal dari tuntutan akademik, jadwal kegiatan yang padat, paparan media digital berlebihan, konflik pertemanan, perundungan, hingga kurangnya komunikasi hangat dalam keluarga.

“Stres perlu diwaspadai apabila berlangsung berkepanjangan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Tandanya dapat berupa perubahan pola tidur, kehilangan minat bermain, mudah marah, menarik diri, atau keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis yang jelas,” ungkap Yulina.

Main Squishy Bantu Lebih Tenang

Terkait tren penggunaan squishy, Yulina menyebut aktivitas sensorik berulang dapat membantu sebagian anak menenangkan diri dan mengalihkan perhatian dari situasi yang menegangkan.

Namun, squishy tersebut bukan solusi tunggal untuk mengatasi stres. Orangtua juga perlu memastikan keamanan produk serta membantu anak mengembangkan cara lain untuk mengelola emosi.

Orangtua membiasakan anak untuk mengenali dan menamai perasaan, menerima emosi anak tanpa menghakimi. Lalu, mengajarkan teknik sederhana seperti menarik napas perlahan atau menghitung satu hingga sepuluh bila sedang marah.

Anak juga membutuhkan tidur cukup, asupan nutrisi yang baik, dan waktu bermain yang seimbang.

“Setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap tekanan. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang memberikan rasa aman, penerimaan, dan dukungan emosional,” pungkasnya