BAB Berdarah Tak Selalu karena Ambeien

Ketahui penyebab lain BAB berdarah. Salah satunya karena gangguan pada saluran cerna bagian bawah.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 24 September 2026, 11:00 WIB
Ilustrasi Mencari Tahu Penyebab BAB Berdarah . (Unsplash/Madhourse)

Liputan6.com, Jakarta - Ada darah saat buang air besar (BAB) membuat sebagian orang awam berpikir hal tersebut karena ambeien atau wasir. Nyatanya, tak semua penyebab BAB berdarah itu karena ambeien.

“BAB berdarah memang sering berkaitan dengan ambeien, tetapi tidak selalu demikian," kata dokter spesialis bedah konsultan bedah digestif, Okkian Wijaya Katamto.

Lebih lanjut, Okkian mengatakan perlu pemeriksaan untuk mengetahui sumber keluhan.

"Apakah berasal dari pembengkakan pembuluh darah di area anus, luka pada anus, peradangan, atau gangguan lain pada saluran cerna bagian bawah,” terang dokter yang praktik di Digestive Center Bethsaida Hospital Gading Serpong.

Ia menyarankan pasien untuk segera menjalani pemeriksaan bila mengalami BAB berdarah berulang disertai nyeri saat BAB, muncul benjolan di sekitar anus, perubahan pola BAB yang berlangsung lama, tinja berwarna hitam, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Pemeriksaan sejak dini penting untuk membantu dokter memastikan penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang paling sesuai.

Misalnya pasien bisa menjalani endoskopi untuk mengevaluasi kondisi saluran cerna bagian atas, termasuk lambung dan kerongkongan. Bisa juga kolonoskopi sesuai indikasi medis dan ketersediaan layanan untuk membantu memeriksa kondisi usus besar dan saluran cerna bagian bawah, terutama pada pasien dengan keluhan seperti BAB berdarah, perubahan pola BAB, atau keluhan lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Pemeriksaan hingga mengetahui akar masalah penting karena BAB berdarah dapat muncul akibat berbagai kondisi, mulai dari ambeien hingga gangguan lain pada saluran cerna yang memerlukan penanganan berbeda.

Penanganan BAB Berdarah Sesuai Hasil Pemeriksaan

Setelah menjalani pemeriksaan dan diketahui penyebab maka bisa dilanjutkan dengan tindakan yang sesuai. 

Pada sebagian kasus, keluhan dapat ditangani dengan pengobatan, perubahan pola makan, dan perbaikan kebiasaan buang air besar.

Namun, pada kondisi tertentu, pasien bisa membutuhkan prosedur lanjutan untuk membantu memastikan sumber keluhan sekaligus menentukan penanganan yang lebih tepat.

Selain pemeriksaan dan tindakan medis, edukasi pasien terkait pola makan dan gaya hidup juga penting. Diantaranya dengan konsumsi serat yang cukup, asupan cairan yang memadai, aktivitas fisik rutin, serta menghindari kebiasaan mengejan berlebihan saat buang air besar merupakan beberapa langkah yang dapat membantu menjaga kesehatan saluran cerna dan menurunkan risiko keluhan berulang.

Maka pasien tidak hanya diarahkan untuk menjalani pengobatan, tetapi juga dibimbing agar mampu mengenali faktor pemicu dan melakukan perubahan gaya hidup yang membantu menjaga kesehatan pencernaan dalam jangka panjang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya