Liputan6.com, Jakarta - Mengganti popok bayi bukan sekadar rutinitas untuk menjaga si kecil tetap nyaman. Waktu penggantian popok juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kulit bayi yang masih sensitif.
Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi Estetika sekaligus Subspesialis Dermatologi Anak, Dr. Triana Agustin, SpDVE, SubSp DA, mengatakan kulit bayi berbeda dengan kulit orang dewasa. Kulit bayi lebih tipis dan masih terus mengalami perkembangan sehingga cenderung sensitif.
Advertisement
"Jadi kulit bayi itu lebih tipis, tapi tentunya kulit bayi terus mengalami perkembangan. Sehingga kulit bayi itu sensitif," kata Triana dalam diskusi media yang diadakan Raja Susu X Merries di Jakarta pada Senin, 28 September 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat orang tua perlu memberikan perhatian lebih terhadap perawatan kulit bayi, termasuk area yang tertutup popok. Pasalnya, area tersebut terus berkontak dengan popok dan berada dalam kondisi yang relatif lembap.
"Popok itu selama seharian berkontak terus dengan kulit bayinya. Di situ juga terdapat kelembapan yang tinggi, kemudian bisa terdapat gesekan yang tentunya berisiko terjadinya iritasi pada kulit bayi," tambahnya.
Jangan Tunggu Popok Penuh
Triana mengingatkan orang tua agar tidak menunggu popok benar-benar penuh sebelum menggantinya. Secara umum, popok dapat diganti sekitar setiap empat hingga lima jam. Namun, waktu tersebut bukan patokan mutlak karena kondisi setiap bayi berbeda.
"Kalau memang sudah penuh, kita nggak bisa patokan waktu ya. Karena kan juga tergantung minumnya bayi. Jadi kalau memang harus dicek, kalau dia terasa sudah penuh itu memang harus diganti. Tapi kurang lebih sekitar empat sampai lima jam," kata Triana.
Yang tidak kalah penting, popok harus segera diganti setelah bayi buang air besar. Hal ini karena urinee dan feses yang terlalu lama berkontak dengan kulit dapat meningkatkan risiko munculnya masalah pada area popok.
Kelainan Kulit di Area Popok
Triana menjelaskan bahwa kelainan kulit di area popok dapat disebut sebagai diaper rash. Sementara itu, dermatitis popok merupakan salah satu kondisi yang dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari kelembapan, kebersihan, hingga kontak kulit dengan urinee dan feses.
"Kalau yang disebut kelainan kulit akibat penggunaan popok yang tidak tepat atau perawatan kulit yang tidak tepat di area popok, sehingga faktor kelembapannya, kebersihannya, kemudian kontak dengan urine, dengan feses, itu kan multifaktor. Itu dermatitis popok," ujarnya.
Oleh sebab itu, menjaga kesehatan kulit bayi tidak cukup hanya dengan memilih popok yang tepat. Orang tua juga perlu memperhatikan kebersihan dan kondisi kulit setiap kali mengganti popok.
Area popok perlu dijaga tetap bersih, kering, dan nyaman. Setelah bayi buang air besar, popok sebaiknya segera dilepas dan kulit dibersihkan dengan cara yang tepat sebelum menggunakan popok baru.
Selain itu, pemilihan popok juga dapat menjadi pertimbangan. Menurut Triana, kemampuan popok menyerap dan menahan cairan penting untuk membantu menjaga kulit bayi tetap lebih kering.
"Hal utama untuk diperhatikan adalah kemampuan popok dalam menyerap dan menahan air, sehingga kulit bayi tetap berada dalam kondisi yang lebih kering dan terlindungi," ujarnya.
Triana juga menekankan bahwa daya serap tinggi bukan berarti popok boleh digunakan lebih lama. Penggantian tetap perlu dilakukan secara berkala sesuai kondisi popok dan kebutuhan bayi.
"Jadi, bukan berarti karena daya serapnya tinggi kemudian digunakan semaksimal mungkin. Itu tidak mengedukasi. Tapi memang kita mempersiapkan produk yang daya serapnya tinggi sekali, sehingga itu tidak wet pack," tambahnya.