Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat influenza A(H1N1)pdm09 menjadi subtipe virus influenza yang paling banyak ditemukan di Indonesia sepanjang 2026 hingga akhir September. Setelah itu, subtipe virus yang ditemukan berikutnya adalah Influenza A(H3N2) dan Influenza B/Victoria.
Hal ini menegaskan bahwa bukan influenza A(H3N2) subclade K atau masyarakat menjuluknya 'super flu' yang mendominasi kasus infeksi virus tersebut di Indonesia.
Advertisement
"Bahwa yang dominan di Indonesia saat ini adalah influenza A H1N1. Jadi, bukan super flu atau influensa A H3N2," kata Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes Andi Saguni pada konferensi pers daring, Senin (28/9/2026).
Berdasarkan catatan Kemenkes hingga akhir September 2026 terdapat 1.527 hasil pemeriksaan yang positif influenza.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025. Saat itu, Kemenkes mencatat 2.790 hasil pemeriksaan positif influenza.
Menurut Andi, urutan subtipe influenza yang ditemukan juga relatif sama dengan tahun sebelumnya, yakni H1N1 menjadi yang terbanyak, kemudian H3N2 dan Influenza B/Victoria.
Apakah Influenza A Gejalanya Lebih Berat?
Terkait gejala influenza A yang disebut-sebut warganet lebih berat, Andi menegaskan, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa influenza A yang beredar saat ini menyebabkan gejala yang lebih berat hanya berdasarkan pengalaman atau keluhan masyarakat.
Menurutnya, tingkat keparahan influenza perlu dilihat berdasarkan data surveilans, termasuk jumlah kasus berat, pasien yang menjalani rawat inap, hingga kematian.
“Jadi yang lebih penting adalah melihat data surveillance termasuk jumlah kasus berat, rawat inap dan kematiannya,” kata Andi.
Terkait influenza A(H3N2) yang sempat menjadi perhatian, Andi mengatakan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan data epidemiologi yang tersedia tidak menunjukkan adanya peningkatan tingkat keparahan penyakit.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap waspada, terutama kelompok berisiko seperti balita, ibu hamil, lanjut usia, orang dengan komorbid, dan mereka yang mengalami kondisi imunokompromais.