Duduk Terlalu Lama Disebut Rokok Jenis Kedua, Ini Alasannya

Duduk terlalu lama disebut rokok jenis kedua karena minim gerak dapat berdampak pada kesehatan jantung.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 30 September 2026, 07:00 WIB
Dokter spesialis jantung dr. Bobby Arfhan Anwar menyoroti kebiasaan duduk terlalu lama. Menurutnya, aktivitas minim gerak tersebut pernah dianalogikan dalam penelitian sebagai “rokok jenis kedua”. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Duduk berjam-jam di depan komputer mungkin sudah menjadi rutinitas biasa bagi banyak pekerja. Namun, kebiasaan yang terlihat sepele ini ternyata perlu diperhatikan karena membuat tubuh minim bergerak sepanjang hari.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP(K), FIHA, bahkan menyebut duduk terlalu lama pernah dianalogikan dalam penelitian sebagai 'rokok jenis kedua'.

"Tapi ada satu penelitian yang menarik, ada satu kebiasaan kita yang dianggap sebagai rokok jenis kedua. Dia nggak merokok, tapi dianggap rokok jenis kedua. Ya itu duduk terlalu lama. Ini pekerjaan anak muda kan," katanya dalam sesi diskusi menyambut World Heart Day 2026 yang digelar Novo Nordisk Indonesia di Jakarta pada Senin (28/9/2026).

Bagi pekerja yang menghabiskan sebagian besar waktu di depan layar, duduk bisa berlangsung sejak pagi hingga sore dengan hanya sedikit jeda untuk bergerak. Kebiasaan tersebut juga tidak selalu berhenti setelah jam kerja.

Waktu istirahat, misalnya, bisa kembali dihabiskan dengan duduk sambil bermain gim atau menggunakan ponsel. Akibatnya, kesempatan tubuh untuk bergerak sepanjang hari semakin sedikit.

Menurut Bobby, kemudahan teknologi dan pola kerja yang semakin bergantung pada layar turut membuat seseorang lebih mudah menjalani gaya hidup sedentari.

Tak Harus Olahraga Berat

Mengurangi kebiasaan duduk terlalu lama tidak selalu harus dilakukan dengan olahraga berat. Menurut Bobby, memberikan jeda secara berkala untuk membuat tubuh kembali bergerak juga dapat dilakukan di tengah kesibukan.

Dia sendiri berusaha menyisipkan aktivitas fisik ringan di sela-sela pekerjaan. Setiap sekitar dua jam, Bobby biasanya mengambil jeda untuk berjalan atau melakukan gerakan sederhana.

"Kalau saya sendiri dan juga banyak teman-teman dokter, kalau saya di setiap 2 jam praktik, saya ke belakang ke toilet mungkin saya lakukan exercise atau olahraga ringan. Seperti jinjit, mungkin wall push up atau wall sit, saya akan lakukan. Karena saya tidak ingin masuk ke kriteria terlalu banyak duduk atau gaya hidup yang tidak aktif," katanya.

Jeda tersebut dapat dimanfaatkan untuk berjalan ke kamar mandi, mengambil minum, atau sekadar melakukan gerakan ringan di sekitar tempat kerja.

Beberapa gerakan sederhana seperti jinjit, wall push-up, atau wall sit juga dapat dilakukan untuk membuat tubuh tidak terus-menerus berada dalam posisi duduk.

Bagi pekerja yang sebagian besar waktunya dihabiskan di depan meja, membangun kebiasaan untuk lebih sering bergerak dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi durasi duduk dalam sehari.

Penyakit Jantung Juga Mengintai Usia Produktif

Bobby juga menerangkan bahwa penyakit jantung koroner dan serangan jantung kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

Menurutnya, kasus pada usia muda umumnya terjadi pada mereka yang berusia di atas 30 tahun, dengan kelompok usia sekitar 40 tahun menjadi salah satu yang banyak ditemukan.

Perubahan gaya hidup menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Pola konsumsi makanan tinggi garam dan gula semakin mudah ditemukan, sementara aktivitas fisik sehari-hari justru cenderung berkurang.

Konsumsi makanan yang terlalu asin dan manis dapat meningkatkan risiko hipertensi dan diabetes. Di sisi lain, kemudahan teknologi dan berbagai layanan sehari-hari membuat seseorang semakin jarang bergerak.

Jika sebelumnya seseorang perlu berjalan ke kantin untuk membeli makanan atau menaiki tangga untuk melakukan aktivitas sederhana, kini berbagai kebutuhan bisa datang langsung ke meja.

Perubahan kecil dalam rutinitas tersebut membuat seseorang memiliki semakin sedikit alasan untuk bergerak.

Oleh sebab itu, di tengah pola kerja yang mengharuskan seseorang duduk di depan komputer selama berjam-jam, memberikan jeda untuk berdiri dan bergerak menjadi bagian penting dari upaya menjaga tubuh tetap aktif.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya