Sakit Gigi Hilang Sendiri, Bukan Berarti Masalah Selesai

Namun, ketika saraf gigi tersebut sudah mati, keluhan nyeri justru dapat menghilang. Namun, risiko infeksi masih ada.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 04 Oktober 2026, 18:00 WIB
VP Medical Affairs Satu Dental Group, drg Melisa Delania SpPros bicara tentang sakit gigi yang hilang tanpa perawatan medis. Bisa jadi di kemudian hari menimbulkan masalah.

Liputan6.com, Jakarta - Sakit gigi tidak muncul begitu saja. Ada proses yang berlangsung sebelum muncul keluhan. Lalu, ketika sakit gigi hilang dengan sendirinya tanpa penanganan bisa saja berkembang menjadi infeksi.

Drg Melissa Delania, SpPros dari Satu Dental menjelaskan bahwa rasa sakit pada gigi dapat mereda ketika saraf gigi sudah mengalami kerusakan hingga mati. Namun, kondisi tersebut bukan berarti masalah telah selesai.

Ketika saraf gigi masih hidup, kerusakan pada gigi dapat menimbulkan rasa sakit. Namun, ketika saraf tersebut sudah mati, keluhan nyeri justru dapat menghilang.

"Jadi waktu sarafnya masih ada, mulai rusak itu sakit dulu. Terus kemudian sempat enggak sakit dulu, nah biasa pasien sudah merasa sudah enak, padahal bukan, itu malah awal mulai lebih parah lagi," kata Dela. 

Saraf gigi yang sudah mati bukan berarti jaringan di sekitar gigi terbebas dari masalah. Justru, kondisi tersebut dapat menjadi bagian dari proses infeksi yang terus berkembang apabila tidak ditangani.

Dela menjelaskan, jaringan yang sudah mati di dalam tubuh dapat memicu reaksi peradangan dan infeksi di area tersebut. Ketika kondisi ini kembali dibiarkan, infeksi dapat semakin besar dan menimbulkan pembengkakan maupun demam.

Pada infeksi gigi yang berat, pembengkakan juga dapat menekan jaringan di sekitarnya. Mengingat area gigi dan rongga mulut berdekatan dengan jalur napas, maka bisa memengaruhi sampai ke situ. Infeksi yang berat juga dapat menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi pada bagian tubuh lain.

Maka dari itu, hilangnya rasa sakit tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan kondisi gigi.

Jangan Tunggu Sakit Baru ke Dokter Gigi

dok: ist

Dela mengingatkan pemeriksaan gigi tidak seharusnya baru dilakukan ketika muncul rasa sakit. Pemeriksaan rutin diperlukan untuk mengetahui masalah gigi dan mulut sejak awal.

Ia menyarankan kontrol ke dokter gigi secara berkala, sekitar setiap enam bulan. Pemeriksaan rutin dapat membantu menemukan masalah seperti karang gigi maupun gigi berlubang sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Terlebih, orang yang sudah puluhan tahun tidak memeriksakan gigi dapat datang dengan lebih dari satu masalah.

Ketika ditemukan beberapa masalah, dokter akan menentukan prioritas perawatan dan menyelesaikannya secara bertahap. Perawatan tidak selalu berarti seluruh masalah harus ditangani dalam satu kali kunjungan.

“Dalam proses menyelesaikan akan datang berkali-kali karena tabungan 30 tahun enggak ke dokter gigi,” katanya. 

Merawat Gigi Setiap Hari

Selain rutin memeriksakan kondisi gigi tiap enam bulan, hal tak kalah penting adalah menjaga gigi setiap hari. Dela mengingatkan pentingnya menyikat gigi dua kali sehari dengan memastikan seluruh permukaan gigi dibersihkan. Pembersihan tambahan menggunakan benang gigi atau water flosser juga dapat membantu membersihkan area yang sulit dijangkau sikat gigi.

Selain kebersihan gigi, frekuensi makan juga perlu diperhatikan. Terlalu sering ngemil dapat membuat kondisi asam di dalam mulut lebih sering terjadi sehingga meningkatkan risiko kerusakan gigi.

Karena itu, menjaga jadwal makan tetap teratur dan membersihkan mulut setelah makan menjadi bagian dari kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan gigi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya