Gigi Berlubang Tak Selalu Harus Dicabut

Gigi berlubang sebisa mungkin ditangani dengan mempertahankan gigi asli. Pencabutan menjadi pilihan jika kerusakan sudah terlalu parah.

Diterbitkan 05 November 2026, 16:15 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gigi berlubang tidak selalu berujung pada pencabutan. Selama kerusakan belum terlalu parah dan struktur gigi masih memungkinkan untuk dipertahankan, ada sejumlah tindakan medis yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan gigi.

Dokter gigi lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) sekaligus CEO Audy Dental, drg Yulita Bong, menjelaskan bahwa kerusakan gigi berlangsung secara bertahap. Tingkat keparahannya bergantung pada seberapa dalam lubang mencapai lapisan gigi.

"Ketika gigi berlubang, hanya enamel saja, itu biasanya simpel. Kita bilang kasusnya simpel, sama sekali gigi masih jauh (dari kondisi parah)," kata Yulita.

Ketika lubang sudah mencapai lapisan dentin, sebagian besar kasus masih dapat ditangani dengan penambalan. Namun, jika kerusakan semakin dalam, bakteri dapat masuk hingga ke saluran akar dan memerlukan perawatan lebih lanjut.

"Sebagian besar masih bisa ditambal. Namun, sebagian besar juga ada yang harus dilakukan perawatan saluran akar," ujarnya ditemui di sela-sela clinic tour, Audy Dental Agora Mall Jakarta Pusat pada Kamis (5/11/2026).

Yulita menegaskan, kerusakan yang sudah mencapai pulpa tidak otomatis membuat gigi harus dicabut. Dalam banyak kasus, gigi masih bisa dipertahankan melalui perawatan saluran akar.

Karena itu, pencabutan bukan menjadi pilihan pertama setiap kali seseorang mengalami gigi berlubang. Dokter perlu menilai kondisi gigi secara menyeluruh sebelum menentukan tindakan yang tepat.

Kapan Gigi Berlubang Harus Dicabut?

 

Salah satu kondisi yang membuat dokter mulai mempertimbangkan pencabutan adalah ketika bagian mahkota gigi yang tersisa sudah sangat sedikit. Mahkota merupakan bagian gigi yang terlihat di atas gusi.

Dalam kondisi tersebut, dokter perlu menilai apakah gigi masih memungkinkan untuk direstorasi atau dipulihkan menggunakan tindakan seperti crown.

"Kalau mahkota gigi itu sudah sangat-sangat minim, nah itu biasanya kita sudah mulai pertimbangkan (pencabutan gig). Karena berarti tidak bisa direstorasi lagi," kata Yulita.

Selain kerusakan mahkota yang terlalu parah, dokter gigi mengatakan pencabutan juga dapat dipertimbangkan ketika akar gigi mengalami patah atau tersisa terlalu sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk dipertahankan.

Yulita menambahkan, proses dari awal gigi berlubang hingga akhirnya harus dicabut sebenarnya cukup panjang. Ada banyak upaya perawatan yang dapat dilakukan sebelum dokter memutuskan bahwa gigi tersebut sudah tidak bisa diselamatkan.

"Jadi, dari gigi berlubang itu masih jauh banget. Masih banyak banget upaya yang bisa kita lakukan sebelum akhirnya gigi dicabut," tuturnya.