Liputan6.com, Jakarta - Riwayat kanker dalam keluarga kerap menimbulkan kekhawatiran. Orangtua khawatir anak bisa terkena, begitu pula anak juga.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dokter Ditia Gilang Shah Putra Rahim, SpA, menjelaskan bahwa kanker tidak diwariskan secara langsung dari orangtua kepada anak. Meski demikian, mutasi gen tertentu yang meningkatkan kerentanan seseorang terhadap kanker dapat diturunkan melalui sel telur atau sperma.
Advertisement
“Sebetulnya yang diturunkan bukan kankernya, tetapi gennya. Mutasi pada gen tertentu menyebabkan seseorang memiliki kerentanan untuk mengalami kanker,” jelas Gilang.
Berdasarkan penyebab genetik, kanker dikelompokkan menjadi tiga jenis yakni kanker herediter, familial, dan sporadis.
Kanker herediter berkaitan dengan mutasi gen yang diwariskan dari orang tua. Sementara itu, kanker familial cenderung muncul pada beberapa anggota keluarga, tetapi tidak selalu disebabkan oleh satu mutasi gen bawaan yang telah teridentifikasi.
Adapun kanker sporadis terjadi tanpa kaitan dengan mutasi gen warisan yang diketahui. Kondisi ini dapat berkembang akibat perubahan genetik yang muncul selama kehidupan seseorang.
Perbedaan tersebut penting dipahami agar riwayat kanker dalam keluarga tidak langsung diartikan sebagai bukti bahwa penyakit tersebut pasti diturunkan secara genetik.
Jika salah satu orangtua membawa mutasi gen tertentu, setiap anak memiliki peluang 50 persen untuk mewarisi mutasi tersebut, Namun, angka itu tidak berarti risiko anak terkena kanker juga sebesar 50 persen.
Ia mencontohkan gen BRCA1, yakni gen penekan tumor (tumor suppressor gene) yang berfungsi membantu memperbaiki DNA yang rusak.
“Di dalam tubuh ada dua salinan BRCA1. Jika salah satunya mengalami mutasi, salinan lainnya masih dapat membantu memperbaiki DNA yang rusak. Jadi, mewarisi mutasi gen tidak berarti seseorang pasti mengalami kanker,” papar Gilang mengutip laman IPB pada Senin (26/10/2026).
Hal serupa berlaku pada kanker ginjal. Riwayat kanker ginjal pada orangtua juga tidak otomatis membuat anak mengalami kanker yang sama.
“Penilaian risiko perlu mempertimbangkan usia saat diagnosis, pola kanker dalam keluarga, serta kemungkinan adanya kelainan genetik tertentu,” tambah Gilang.
Siapa yang Perlu Lakukan Pemeriksaan Genetik?
Gilang menuturkan beberapa kondisi yang perlu diwaspadai antara lain kanker yang muncul pada usia relatif muda, seseorang mengalami lebih dari satu jenis kanker, kanker langka, serta tiga atau lebih anggota keluarga sedarah dengan jenis kanker yang sama atau berkaitan.
Pemeriksaan atau konseling genetik dapat dipertimbangkan ketika terdapat anggota keluarga inti yang didiagnosis kanker sebelum usia 50 tahun, atau ketika keluarga diketahui memiliki mutasi gen bawaan tertentu.
“Prioritas pertama pemeriksaan dilakukan pada orang yang pernah atau sedang menderita kanker. Anggota keluarga yang sehat baru diperiksa setelah tes pada anggota keluarga yang sakit menunjukkan adanya mutasi gen,” ungkapnya.