Orangtua Ingin Aktualisasi Diri, Keselamatan Anak Tetap Prioritas

Keinginan orangtua untuk tetap menjalani hobi, berkarier, dan menikmati hidup setelah memiliki anak perlu diimbangi dengan tanggung jawab pengasuhan.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 26 Oktober 2026, 19:00 WIB
ilustrasi anak bermain dan pengawasan orangtua /Photo by Tanaphong Toochinda on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta - Generasi orangtua saat ini hidup di lingkungan sosial yang banyak menekankan pentingnya self-care, personal happiness, work-life balance, dan aktualisasi diri. Apalagi ditambah dengan media sosial turut membentuk persepsi bahwa kehidupan ideal adalah kehidupan yang tetap produktif, penuh pengalaman, dan menyenangkan meskipun seseorang sudah memiliki anak.

Dalam situasi tertentu, kondisi ini dapat memunculkan tekanan psikologis untuk tetap melakukan berbagai aktivitas seperti sebelum memiliki anak. Bahkan, ada kekhawatiran tertinggal dari pengalaman yang dinikmati orang lain atau yang dikenal sebagai fear of missing out (FOMO).

Di sisi lain, pola asuh modern juga semakin menekankan kemandirian anak. Menurut psikolog klinis Efnie Indrianie, hal ini merupakan sesuatu yang positif selama disesuaikan dengan kapasitas perkembangan anak. Meski begitu ia mengingatkan orangtua untuk tidak mengabaikan keselamatan anak. 

“Namun, kemandirian anak tidak boleh disamakan dengan kemampuan anak menjaga keselamatannya sendiri,” ujar Efnie dalam keterangan tertulis. 

Anak mungkin sudah mampu bermain, makan, atau tidur sendiri. Namun, kemampuan tersebut tidak otomatis berarti anak sudah bisa mengenali bahaya dan menghadapi situasi berisiko tanpa pengawasan orang dewasa.

Efnie mengatakan dalam perspektif bio-neuropsikologi, kemampuan anak usia dini untuk mengenali bahaya, mengendalikan impuls, memperkirakan konsekuensi, dan mengambil keputusan yang aman masih berkembang. Maka anak belum dapat dibebani tanggung jawab menjaga keselamatannya sendiri sebagaimana orang dewasa.

Efnie menilai, orangtua perlu memahami bahwa kebahagiaan keluarga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pribadi orangtua, tetapi juga dengan kebutuhan tumbuh kembang dan keselamatan anak.

“Karena itu, menurut saya, orangtua perlu memahami bahwa kebahagiaan keluarga bukan sekadar terpenuhinya kebutuhan pribadi orangtua, melainkan terciptanya keseimbangan antara kebutuhan orangtua, kebutuhan perkembangan anak, dan keamanan seluruh anggota keluarga,” tuturnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya