Liputan6.com, Jakarta - Operasi usus buntu, caesar, atau bedah lain di area perut dapat meninggalkan jaringan parut di dalam rongga perut. Pada kondisi tertentu, jaringan ini bisa membuat usus menempel pada organ lain dan memicu gangguan kesehatan.
Dokter spesialis bedah digestif, Eko Priatno mengatakan perlengketan usus terjadi ketika jaringan parut membuat bagian usus menempel pada jaringan atau organ di sekitarnya. Selain setelah operasi, kondisi ini juga dapat dipicu oleh peradangan maupun infeksi di rongga perut.
Advertisement
Pada sebagian pasien, perlengketan bisa tidak menimbulkan gejala. Namu, ada juga yang menimbulkan gejala nyeri perut berulang, kembung, hingga gangguan pergerakan usus. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan dan menentukan penanganan yang sesuai.
“Perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut. Tidak semua pasien mengalami gangguan, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing," kata dokter dari Bethsaida Hospital Gading Serpong ini.
Sebelum menentukan terapi, dokter melakukan evaluasi riwayat operasi, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti CT Scan sesuai kebutuhan. Pemeriksaan ini membantu menilai kondisi organ dan kemungkinan komplikasi, meskipun perlengketan tidak selalu terlihat secara langsung pada pencitraan.
Bila kasus kompleks maka membutuhkan kerja sama antar dokter spesialis. Tujuannya, kata Eko, untuk memastikan setiap organ yang terlibat mendapatkan penanganan yang tepat.
Salah satunya kasus kompleks ketika jaringan parut berada dekat atau melibatkan saluran kemih, terutama ureter, yaitu saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih. Eko mengatakan pada kondisi tersebut dokter spesialis bedah digestif dapat berkolaborasi dengan dokter spesialis urologi rekonstruksi untuk merencanakan penanganan sesuai organ yang terdampak.
Dokter bedah digestif menangani gangguan pada usus, termasuk melepaskan perlengketan apabila diperlukan. Sementara itu, dokter urologi rekonstruksi mengevaluasi dan menangani keterlibatan saluran kemih, termasuk melakukan perbaikan atau rekonstruksi sesuai indikasi.
“Pada kasus perlengketan yang kompleks, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu organ. Kami perlu memahami hubungan antar organ yang terlibat agar tindakan dapat direncanakan secara menyeluruh, termasuk menjaga fungsi saluran kemih dan melakukan rekonstruksi jika diperlukan,” ungkap dokter spesialis urologi konsultan trauma dan rekonstruksi urogenital, Donny Eka Putra.