7 Tanda Kamu Berkencan Hanya untuk Mencari Validasi

Kenali 7 tanda kamu berkencan hanya demi validasi, bukan cinta, serta cara membangun hubungan yang tulus.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 02 November 2026, 15:15 WIB
Berkencan tidak selalu berarti ingin membangun hubungan yang tulus. Kenali 7 tanda seseorang hanya mencari validasi, mulai dari ingin merasa diinginkan hingga menikmati perhatian orang lain. (Sumber foto: unsplash.com)

Liputan6.com, Jakarta - Menjalani hubungan romantis tidak selalu berarti seseorang benar-benar ingin mengenal dan membangun kedekatan dengan pasangannya. Dalam beberapa situasi, aktivitas berkencan justru didorong oleh keinginan untuk merasa disukai, diinginkan, atau mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Kecenderungan ini dikenal sebagai dating for validation, yaitu ketika seseorang lebih mencari kepastian bahwa dirinya menarik dan layak dipilih daripada membangun hubungan emosional yang tulus.

Melansir SELF pada Senin (2/11/2026), sejumlah pakar hubungan menjelaskan bahwa kebiasaan ini terkadang sulit dikenali karena sekilas terlihat seperti proses pendekatan dalam hubungan asmara pada umumnya.

Namun, ada beberapa pola yang bisa menjadi tanda bahwa seseorang lebih mengejar validasi daripada membangun koneksi emosional.

1. Lebih Menginginkan Status Punya Pasangan daripada Mengenal Orangnya

Salah satu tandanya adalah seseorang lebih berfokus pada keinginan memiliki pasangan daripada benar-benar tertarik dengan individu yang sedang didekatinya.

Ia mungkin lebih sibuk membayangkan kehidupan ketika sudah memiliki hubungan daripada mengenal karakter dan kepribadian orang tersebut.

Menurut terapis pernikahan dan keluarga sekaligus pakar hubungan Moe Ari Brown, ketertarikan yang tulus seharusnya membuat seseorang melihat calon pasangan sebagai individu yang utuh, bukan sekadar sosok dalam bayangan atau fantasi.

2. Kedekatan Terasa Kuat saat Bertemu tapi Menghilang ketika Berjauhan

Tanda lainnya terlihat ketika kedekatan terasa begitu kuat saat bertemu langsung, tetapi menghilang ketika masing-masing berada di tempat berbeda.

Psikolog klinis Sabrina Romanoff menyebut pola ini sebagai performative chemistry, yaitu kedekatan yang terasa intens ketika bersama, tetapi tidak disertai investasi emosional yang konsisten.

3. Terlalu Cepat Terbuka untuk Menciptakan Kedekatan

Seseorang juga mungkin terlalu cepat menceritakan persoalan pribadi demi menciptakan kesan dekat dengan calon pasangan.

Padahal, keterbukaan emosional seharusnya berkembang seiring terbentuknya rasa percaya, bukan sekadar menjadi jalan pintas untuk mendapatkan keintiman.

Romanoff menjelaskan bahwa intensitas di awal hubungan memang bisa terasa bermakna. Namun, dalam beberapa situasi, hal tersebut justru berkaitan dengan upaya mendapatkan validasi secara instan.

4. Intens Berkomunikasi, tetapi Menghindari Ajakan Bertemu

Pola berikutnya adalah terus menjaga komunikasi, seperti rutin bertukar pesan atau menggoda, tetapi menghindari rencana bertemu secara langsung.

Romanoff menjelaskan bahwa seseorang yang didorong oleh ego dapat mempertahankan perhatian orang lain tanpa benar-benar berusaha memperdalam hubungan.

“Ketika seseorang didorong oleh egonya, mereka cenderung menjaga agar orang lain tetap tertarik dengan cara memberikan harapan semu,” tuturnya.

5. Menunjukkan Ketertarikan yang Tidak Konsisten

Perilaku yang tidak konsisten juga bisa menjadi tanda dating for validation.

Seseorang mungkin sangat aktif menghubungi calon pasangan ketika merasa bosan, kesepian, atau membutuhkan perhatian. Namun, ia kemudian menghilang ketika kebutuhan tersebut sudah terpenuhi.

6. Memperlakukan Banyak Orang dengan Cara yang Sama

Tanda lainnya adalah memperlakukan beberapa orang dengan cara yang hampir sama tanpa menunjukkan ketertarikan khusus untuk mengenal masing-masing individu.

Psikoterapis Danielle Madonna menilai pola tersebut dapat mencerminkan kebutuhan untuk mendapatkan validasi dari banyak orang, alih-alih membangun investasi emosional dengan seseorang secara lebih mendalam.

7. Lebih Menikmati Proses Mengejar daripada Mendapatkan Perhatian

Terakhir, seseorang mungkin lebih menikmati proses mengejar daripada ketika mendapatkan balasan ketertarikan.

Ketika orang yang didekati mulai menunjukkan keseriusan, antusiasmenya justru menurun. Madonna menjelaskan bahwa kondisi ini bisa menandakan dorongan utamanya adalah perasaan diinginkan, bukan keinginan membangun keintiman.

“Ini bukan soal membangun hubungan, melainkan soal perasaan diinginkan orang lain.”

Mengubah Pola Berkencan

Menurut Brown, langkah awal untuk mengubah pola tersebut adalah mengenali kebiasaan diri sendiri tanpa menghakimi. Keinginan mendapatkan pengakuan dalam hubungan merupakan hal yang manusiawi. Namun, seseorang tetap perlu memahami apa yang sebenarnya dicari dari sebuah hubungan.

Ia menyarankan agar seseorang mulai mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri. Misalnya, apakah merasa nyaman ketika bersama orang tersebut? Apakah benar-benar ingin mengenalnya? Bisakah menjadi diri sendiri tanpa harus terus berusaha tampil mengesankan?

Seseorang juga perlu mengurangi ketergantungan pada penilaian orang lain ketika menentukan pilihan pasangan.

Dengan begitu, perhatian tidak hanya tertuju pada apakah dirinya dipilih, tetapi juga pada apakah hubungan tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.

Membangun hubungan yang sehat membutuhkan ketertarikan terhadap pribadi seseorang, bukan sekadar perasaan menyenangkan karena mendapatkan perhatian. Memahami perbedaan keduanya dapat membantu seseorang menjalani proses berkencan dengan lebih mindful dan membangun hubungan yang lebih tulus.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya