Diabetes Tak Terkontrol Bisa Bikin Mata Rabun dan Kaki Buntung

Diabetes tak terkontrol bisa memicu kebutaan, kerusakan kaki, hingga serangan jantung. Kenali risikonya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 03 November 2026, 16:11 WIB
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengingatkan bahaya diabetes yang tidak terkontrol karena dapat memicu komplikasi serius, termasuk kebutaan dan amputasi kaki. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh diabetes melitus. Penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah ini dapat memicu berbagai komplikasi serius apabila tidak dikendalikan dengan baik, mulai dari gangguan penglihatan hingga kerusakan ginjal dan penyakit jantung.

Bahkan, lanjut Nadia, pasien diabetes berisiko mengalami kebutaan hingga amputasi kaki. Dia, menjelaskan, kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil atau dikenal dengan istilah mikrovaskular.

Kondisi ini berbahaya karena hampir seluruh organ tubuh membutuhkan aliran darah untuk menjalankan fungsinya. "Kalau istilah medisnya itu kerusakan pembuluh darah-pembuluh darah kecil atau istilahnya itu ada mikrovaskular yang terganggu," kata Nadia dalam diskusi media bersama Kalbe pada Selasa, 3 November 2026.

Menurutnya, gangguan pada pembuluh darah kecil dapat berdampak pada berbagai organ tubuh. Salah satunya mata. Pasien diabetes dapat mengalami gangguan penglihatan akibat kerusakan pembuluh darah pada retina. Kondisi tersebut dikenal sebagai retinopati diabetik atau diabetic retinopathy.

"Makanya kalau sakit DM, orang bisa rabun atau buta yang kita kenal dengan diabetes retinal," ujarnya.

Selain mata, diabetes yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada kaki. Kondisi ini bisa berkembang menjadi luka yang sulit sembuh, infeksi, hingga kematian jaringan.

Dalam kondisi tertentu, amputasi mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. "Kemudian, yang paling gampang, orang DM bisa buntung kakinya," kata Nadia.

 

Diabetes Juga Meningkatkan Risiko Serangan Jantung

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengingatkan bahaya diabetes yang tidak terkontrol karena dapat memicu komplikasi serius, termasuk kebutaan dan amputasi kaki. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Komplikasi diabetes tidak hanya berkaitan dengan gangguan penglihatan dan kerusakan kaki. Penyakit ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

Nadia menjelaskan, masih ada anggapan di masyarakat bahwa diabetes tidak menyebabkan kematian, berbeda dengan penyakit jantung. Padahal, diabetes yang tidak terkendali juga menjadi salah satu faktor risiko penyakit jantung.

"Jadi, jantung itu bukan cuma karena darah tinggi atau karena kolesterol tinggi, tapi juga karena DM yang tidak terkontrol," ujarnya.

Karena itu, pengendalian diabetes perlu dilakukan secara menyeluruh. Penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan obat-obatan, tetapi juga membutuhkan perubahan pola makan, aktivitas fisik, serta pemantauan kesehatan secara rutin.

 

Kemenkes Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Diabetes

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengingatkan bahaya diabetes yang tidak terkontrol karena dapat memicu komplikasi serius, termasuk kebutaan dan amputasi kaki. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Nadia juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kesehatan sejak usia muda. Menurutnya, penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi tidak muncul secara tiba-tiba ketika seseorang memasuki usia lanjut.

Kebiasaan hidup yang kurang sehat dan minimnya pemantauan kesehatan sejak usia produktif dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut.

Dia menyoroti kebiasaan anak muda yang rajin mengikuti kegiatan olahraga seperti fun run, tetapi belum tentu rutin memeriksa tekanan darah, kadar gula darah, dan profil lipid.

Padahal, pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui kondisi kesehatan sejak dini, bahkan ketika seseorang merasa masih sehat dan tidak mengalami keluhan.

Melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), Kementerian Kesehatan mendorong masyarakat memanfaatkan layanan pemeriksaan untuk mendeteksi berbagai faktor risiko penyakit tidak menular.

Nadia menekankan bahwa deteksi dini dan pengendalian diabetes menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup.

Dengan mengetahui kondisi kesehatan lebih awal, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan perubahan pola hidup dan mendapatkan penanganan yang sesuai sebelum diabetes berkembang menjadi komplikasi serius.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya