Obat Ilegal Bisa Gagalkan Pengobatan dan Membahayakan Pasien

Obat ilegal mengancam keselamatan pasien. Kenali risikonya dan pastikan obat berasal dari sumber resmi.

Diterbitkan 21 September 2026, 18:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengobatan seharusnya membantu seseorang menjaga dan memperbaiki kondisi kesehatannya. Namun, penggunaan obat ilegal justru dapat menimbulkan risiko baru karena keaslian, keamanan, kualitas, hingga kandungan produk tidak dapat dipastikan.

Bagi pasien yang menjalani pengobatan dalam jangka panjang, seperti pasien diabetes dan obesitas, keamanan obat menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Pengobatan membutuhkan pemantauan berkelanjutan agar terapi yang dijalani tetap aman.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) mengatakan bahwa keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dijaga sepanjang siklus hidup obat, mulai dari memastikan ketertelusuran dan keamanan produk hingga pemantauan keamanannya setelah beredar melalui pelaksanaan farmakovigilans.

Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM, Nova Emelda, S.Si., Apt., M.S. mengatakan bahwa masyarakat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan perlu berperan aktif dalam menjaga keselamatan pasien.

Nova menjelaskan bahwa keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama yang perlu dijaga sepanjang siklus hidup obat, mulai dari memastikan ketertelusuran dan keamanan produk hingga pemantauan keamanannya setelah beredar melalui pelaksanaan farmakovigilans.

"BPOM mendorong masyarakat, tenaga medis, dan tenaga kesehatan untuk berperan aktif melaporkan setiap kejadian tidak diinginkan atau dugaan efek samping obat, karena setiap laporan menjadi informasi penting dalam pemantauan profil keamanan obat dan upaya perlindungan keselamatan pasien," ujar Nova.

Obat Ilegal Berisiko Gagalkan Pengobatan

Produk medis ilegal dapat mencakup produk palsu, produk yang diperoleh melalui jalur distribusi tidak resmi, produk yang sengaja dicampur atau diubah, hingga produk yang diperjualbelikan melalui transaksi yang tidak sah.

Produk dengan kualitas yang tidak memenuhi standar atau dipalsukan juga dapat mengandung bahan berbahaya atau memiliki dosis yang tidak sesuai. Kondisi tersebut membuat khasiat, keamanan, dan kualitas produk tidak dapat dijamin.

Akibatnya, penggunaan obat ilegal dapat membuat pengobatan tidak memberikan hasil yang diharapkan, memperburuk kondisi kesehatan, bahkan berisiko membahayakan keselamatan pasien.

 

Keamanan Obat Dipantau Sepanjang Perjalanan Pengobatan

Guna mengurangi risiko, masyarakat perlu mendapatkan obat resep melalui jalur resmi dan memastikan penggunaannya sesuai dengan resep atau anjuran tenaga kesehatan.

Obat dapat diperoleh melalui sarana resmi seperti apotek berizin, klinik, rumah sakit, maupun layanan telehealth yang legal. Masyarakat juga dapat memeriksa nomor izin edar (NIE) produk melalui laman resmi Cek BPOM.

Jika menemukan atau mencurigai adanya produk obat ilegal, masyarakat dapat melaporkannya melalui kanal resmi BPOM, seperti Halo BPOM 1500533, WhatsApp +62 811-9181-533, email halobpom@pom.go.id, media sosial resmi BPOM, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) BPOM dan Balai POM di daerah.

Dalam rangka mendukung keselamatan pasien, Novo menerapkan proses dan standar kualitas sebelum produk dipasarkan. Perusahaan juga menerapkan sistem untuk memastikan keaslian produk dan mendukung deteksi produk ilegal setelah obat beredar.

Produk Novo menggunakan sistem serialization sebelum didistribusikan. Sistem tersebut memungkinkan produk dipindai melalui BPOM Mobile untuk membantu memeriksa nomor izin edar, nomor batch, dan tanggal kedaluwarsa.

Setelah produk beredar, upaya pemantauan juga dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung deteksi produk ilegal, termasuk yang ditemukan pada platform daring.

Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarlinan, mengatakan, keselamatan pasien perlu dijaga melalui kolaborasi dan peran aktif berbagai pihak dalam setiap tahapan pengobatan.

"Melalui kolaborasi dan peran aktif setiap pihak, kita dapat bersama-sama mendukung perjalanan pengobatan yang lebih aman bagi pasien," ujarnya.

Bagi Novo, lanjut Riyanny, upaya tersebut dimulai dari penerapan proses dan standar kualitas sebelum produk dipasarkan, sistem untuk memastikan keaslian produk.

"Upaya mendukung deteksi produk ilegal, hingga pemantauan keamanan setelah produk digunakan melalui tanggung jawab Pharmacovigilance," tambahnya.

 

Farmakovigilans Pantau Keamanan Obat

Keamanan obat terus dipantau setelah beredar melalui farmakovigilans. Tim Novo Indonesia mengikuti ketentuan BPOM, termasuk menerima dan menindaklanjuti laporan dugaan efek samping.

Pasien yang mengalami kejadian tidak diinginkan dianjurkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mendukung keselamatan pasien dan pemantauan keamanan obat.