Liputan6.com, Jakarta - Rajin berolahraga belum tentu membuat seseorang terbebas dari risiko diabetes. Gen Z yang gemar mengikuti kegiatan lari seperti fun run, fun walk, hingga lomba lari 5K dan 10K tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatannya, termasuk rutin memeriksa kadar gula darah.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, mengingatkan bahwa aktivitas fisik perlu diimbangi dengan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Sebeb, kebiasaan berolahraga belum tentu membuat seseorang menyadari kondisi kesehatan tubuhnya secara menyeluruh.
Advertisement
Menurut Nadia, masih banyak anak muda yang antusias mengikuti berbagai kegiatan olahraga, tetapi belum tentu memiliki kesadaran yang sama untuk memeriksa tekanan darah, kadar gula darah, dan profil lipid.
"Gen Z masih muda, masih sehat, masih bisa lari 10K. Padahal sebenarnya kita berharap minimal hipertensi, gula darah, lipid itu diperiksa," kata Nadia dalam diskusi media bersama Kalbe pada Selasa, 3 November 2026.
Dia juga menyoroti kebiasaan anak muda yang rajin mengikuti kegiatan olahraga, tetapi belum tentu rutin melakukan pemeriksaan kesehatan.
"Kalau ikut 5K, 3K, fun walk, fun run, itu rajin, ya. Tapi kalau periksa gula darah, tekanan darah, setahun berapa kali? Belum tentu," ujarnya.
Diabetes Bisa Menyerang Usia Muda
Nadia menjelaskan bahwa penyakit tidak menular seperti diabetes tidak muncul secara tiba-tiba. Gangguan kesehatan tersebut dapat berkembang secara bertahap akibat berbagai faktor risiko yang tidak terpantau sejak dini.
Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan tidak seharusnya baru dilakukan ketika seseorang sudah memasuki usia lanjut atau mulai mengalami keluhan.
Menurutnya, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan profil lipid perlu menjadi perhatian masyarakat, termasuk mereka yang masih berusia 25 hingga 30 tahun.
Terlebih, diabetes bukan sekadar persoalan tingginya kadar gula darah. Jika tidak terkontrol, penyakit ini dapat memicu berbagai komplikasi serius karena tingginya kadar gula darah bisa mengganggu pembuluh darah kecil yang menyuplai berbagai organ tubuh.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan akibat retinopati diabetik. Diabetes juga berisiko menyebabkan kerusakan ginjal, luka pada kaki yang sulit sembuh, hingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Nadia menekankan bahwa diabetes dan hipertensi juga tidak bisa dipandang sebagai dua penyakit yang sepenuhnya terpisah. Keduanya berkaitan dengan faktor risiko kardiometabolik, termasuk obesitas, kadar kolesterol, dan gangguan metabolisme lemak.
Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Kementerian Kesehatan mendorong pemanfaatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai salah satu upaya deteksi dini penyakit tidak menular.
Nadia mengajak masyarakat, khususnya Gen Z, untuk tidak menunda pemeriksaan hanya karena merasa masih muda dan sehat.
"Makanya, yuk, ikut CKG. Enggak bayar, gratis," ajaknya.
Dia berharap generasi muda mulai membangun kebiasaan memeriksa kondisi kesehatan, bukan hanya mengandalkan aktivitas olahraga untuk menjaga kebugaran.
Selain pemeriksaan rutin, menjaga pola konsumsi juga menjadi bagian penting dari pencegahan diabetes. Nadia menyoroti kebiasaan mengonsumsi minuman manis dalam kemasan yang semakin populer di kalangan anak muda.
Menurutnya, edukasi mengenai konsumsi gula perlu berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilih makanan dan minuman yang lebih sehat.