Rumah Sakit Hadapi Ancaman Baru, Serangan Siber Berdampak ke Nyawa Pasien

Serangan siber kini menyasar infrastruktur kesehatan. Peretasan fasilitas penyimpanan darah di Prancis menjadi peringatan bagi keselamatan pasien.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 06 November 2026, 15:00 WIB
Digitalisasi rumah sakit membuka risiko baru. Peretas bisa mengganggu sistem penyimpanan darah hingga fasilitas medis. (copyright Pexels/Charlie-Helen Robinson)

Liputan6.com, Jakarta - Serangan siber kini tidak hanya mengancam keamanan data pribadi maupun sistem keuangan. Infrastruktur kesehatan juga mulai menjadi sasaran peretas, dengan risiko yang dapat berdampak langsung terhadap keselamatan pasien.

Salah satu contohnya terjadi di Prancis. Layanan darah nasional Prancis (Établissement français du sang/EFS) mengungkapkan peretas telah mengakses sistem pengendali suhu di tiga fasilitas penyimpanan dingin yang menampung produk darah penting.

Peretas diduga mengubah pengaturan ambang batas suhu dan proses pencairan es (defrosting) hingga mencapai tingkat yang sangat tinggi. Kondisi tersebut berpotensi merusak produk darah, termasuk plasma yang digunakan untuk transfusi maupun pembuatan obat.

"Ambang batas suhu dan pencairan es telah dinaikkan ke tingkat yang sangat tinggi," tulis EFS dalam keterangannya, dikutip dari The Guardian, Jumat (6/11/2026).

Beruntung, sistem alarm berhasil mendeteksi perubahan tersebut sehingga teknisi dapat melakukan intervensi sebelum produk darah mengalami kerusakan. Seluruh produk yang tersimpan di fasilitas terdampak, termasuk kantong plasma, kemudian dipindahkan ke lokasi lain.

EFS merupakan operator transfusi darah publik Prancis yang bertugas mengumpulkan, menguji, menyiapkan, dan mendistribusikan produk darah ke lebih dari 1.900 rumah sakit di seluruh negeri. Layanan tersebut mendukung kebutuhan lebih dari satu juta pasien setiap tahun.

Insiden ini memperlihatkan bagaimana gangguan terhadap sistem digital dapat merembet ke fasilitas fisik yang menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan. Jika tidak terdeteksi tepat waktu, serangan serupa berpotensi mengganggu ketersediaan produk darah yang dibutuhkan pasien.

 

Konektivitas Buka Celah Keamanan

Ancaman serangan siber terhadap infrastruktur kesehatan menjadi semakin serius seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam operasional fasilitas medis. Sistem penyimpanan, pengaturan suhu, distribusi obat, hingga peralatan medis kini semakin banyak terhubung dengan jaringan digital dan dapat dipantau dari jarak jauh.

Kondisi tersebut memberikan kemudahan dalam pengelolaan layanan kesehatan. Namun, di sisi lain, konektivitas juga membuka celah keamanan yang dapat dimanfaatkan peretas untuk mengambil alih kendali perangkat.

Kasus di Prancis bukan satu-satunya insiden yang memperlihatkan kerentanan sistem tersebut. Dalam rangkaian serangan siber di Eropa, sistem pendingin di sejumlah supermarket di hampir 12 negara dilaporkan mengalami gangguan. Suhu lemari pendingin dan freezer meningkat hingga 50 derajat Celsius sehingga menyebabkan kerugian makanan senilai jutaan euro.

Sejumlah perangkat yang terhubung ke internet dan tidak mendapatkan pembaruan perangkat lunak untuk menutup celah keamanan berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku serangan.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa keamanan siber tidak lagi sebatas urusan teknologi informasi. Gangguan terhadap sistem yang mengendalikan fasilitas penyimpanan darah, obat-obatan, maupun peralatan medis dapat membawa konsekuensi terhadap keberlangsungan pelayanan kesehatan.

Karena itu, perlindungan infrastruktur digital perlu menjadi bagian penting dari pengelolaan fasilitas kesehatan. Penguatan sistem pemantauan, pembaruan perangkat lunak, pembatasan akses jarak jauh, serta kesiapan sistem cadangan diperlukan untuk memastikan layanan tetap berjalan ketika terjadi serangan.

Dalam sektor kesehatan, keberhasilan mencegah serangan siber bukan semata-mata soal melindungi data atau perangkat. Lebih dari itu, langkah tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga keselamatan pasien.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya