Plasma Darah Diolah Jadi Obat, Dibutuhkan Pasien Seumur Hidup

Plasma darah dapat diolah menjadi obat penting seperti albumin dan imunoglobulin bagi pasien.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 17:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Plasma darah tidak hanya digunakan untuk transfusi. Komponen darah ini juga dapat diolah menjadi Produk Obat Derivat Plasma (PODP), seperti albumin, imunoglobulin, dan faktor koagulasi atau pembekuan darah, yang dibutuhkan pasien dengan kondisi medis tertentu.

Pakar bank darah dan kedokteran transfusi, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes., Sp.PK., Subsp. B.D.K.T. (K), Subsp. K.V. (K), menjelaskan bahwa kebutuhan terhadap PODP berbeda-beda, tergantung kondisi pasien.

Albumin, misalnya, dibutuhkan oleh pasien dengan kadar albumin rendah yang memerlukan terapi untuk meningkatkan kadar protein tersebut.

"Kalau dari produk utama, albumin dibutuhkan pada pasien-pasien yang albumin-nya perlu dinaikkan," kata Teguh dalam media gathering International Plasma Awareness Week 2026: Memahami Perjalanan Plasma hingga Mendukung Kehidupan Pasien yang digelar Takeda di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Sementara itu, imunoglobulin intravena atau IVIG banyak digunakan pada pasien dengan kondisi autoimun dan sejumlah infeksi.

Produk derivat plasma lainnya juga dibutuhkan pasien hemofilia, yakni kelainan darah yang membuat tubuh sulit membekukan darah. Faktor pembekuan tertentu yang berasal dari plasma dapat digunakan sebagai bagian dari terapi.

Kebutuhan terhadap PODP pada sejumlah pasien juga tidak berhenti setelah satu kali pemberian. Pasien tertentu membutuhkan terapi secara berulang sehingga ketersediaan bahan baku dari donor plasma harus terus dijaga.

“Pasien yang membutuhkan komponen-komponen yang merupakan PODP itu biasanya kebutuhannya bukanlah hanya sekali butuh, tapi akan jadi kebutuhan yang terus-menerus, sehingga supply dari donor harus dipertahankan,” ujar Teguh.

Ketentuan Donor Darah dan Plasma

Menurut Teguh, donasi plasma pada dasarnya tetap mensyaratkan seseorang memenuhi ketentuan sebagai donor darah. Namun, terdapat persyaratan tambahan yang perlu diperhatikan, terutama terkait kualitas plasma sebagai bahan baku.

Ia mencontohkan pemeriksaan kadar albumin dan imunoglobulin pada donor. Pemeriksaan tersebut penting karena plasma yang dikumpulkan nantinya akan diproses menjadi produk seperti albumin dan imunoglobulin.

“Misalnya ya, kita bisa memeriksa kadar albumin dari seorang pendonor, demikian juga untuk imunoglobulinnya. Karena ya kan mereka donor, akan kita proses menjadi albumin dan imunoglobulin. Jadi, kalau kadarnya tidak memenuhi, maka produknya juga tidak akan memenuhi,” jelas Teguh.

Artinya, mutu perlu diperhatikan sejak plasma masih berada di dalam tubuh donor hingga diproses menjadi produk terapi. Kualitas bahan baku akan memengaruhi produk yang nantinya digunakan pasien, terlebih bagi mereka yang membutuhkan terapi secara berkelanjutan.

Kebutuhan Jangka Panjang Pasien Imunodefisiensi Primer

Salah satu kelompok yang sangat bergantung pada produk derivat plasma adalah pasien primary immunodeficiency atau imunodefisiensi primer.

Imunodefisiensi primer merupakan kondisi genetik yang menyebabkan gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, pasien dapat mengalami kesulitan melawan berbagai infeksi.

Ketua Perhimpunan Pasien Imunodefisiensi Primer Indonesia (PPIPI) sekaligus perwakilan pasien imunodefisiensi primer, Dimas Adhi Sugiharto, mengatakan imunoglobulin intravena (IVIG) bukan sekadar terapi untuk meningkatkan kenyamanan.

Bagi sebagian pasien, imunoglobulin merupakan kebutuhan seumur hidup atau lifelong needs.

“Dari kacamata pasien imunodefisiensi primer, obat derivatif plasma yang bernama IVIG atau immunoglobulin itu bukan hanya untuk kenyamanan saja, tapi sudah sifatnya untuk kehidupan mereka,” katanya.

Menurut Dimas, infeksi yang mungkin dianggap ringan oleh orang lain dapat menjadi lebih serius pada pasien imunodefisiensi primer dan berdampak pada kualitas hidup mereka.

Tantangan lainnya adalah diagnosis. Dalam pemaparan tersebut disebutkan hanya sekitar 70 pasien imunodefisiensi primer yang terdaftar di Indonesia. Padahal, secara teoritis jumlah pasien diperkirakan dapat mencapai sekitar 130 ribu orang berdasarkan prevalensi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap produk derivat plasma bukan hanya soal ketersediaan obat.

Pasokan plasma darah, keberlanjutan donor, mutu bahan baku, hingga implementasi menjadi bagian penting untuk memastikan pasien yang membutuhkan dapat memperoleh pengobatan secara berkelanjutan.