Banyak Kasus TBC Belum Terdeteksi, Skrining Aktif Jadi Kunci

Pemanfaatan teknologi seperti AI juga membantu upaya penemuan kasus yang diduga tuberkulosis (TBC).

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 06 November 2026, 16:00 WIB
Skrining aktif tuberkulosis dengan memanfaatkan teknologi AI. (Dok Delft Imaging)

Liputan6.com, Jakarta - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Persoalannya bukan hanya tingginya jumlah kasus, tetapi juga masih adanya orang yang terinfeksi TBC belum terdeteksi. 

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K) mengatakan sebagian orang belum menyadari gejala sehingga tak tahu kalau dirinya terkena TBC. Ditambah lagi ada juga faktor keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan juga dapat membuat seseorang terlambat menjalani pemeriksaan. Padahal, keterlambatan diagnosis berisiko meningkatkan penularan TBC.

"Karena itu, skrining aktif penting untuk menemukan kasus lebih dini, terutama pada kelompok berisiko, seperti orang yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat dengan pasien TBC, orang dengan HIV, serta bayi, anak-anak, lansia, dan orang dengan kondisi yang melemahkan sistem kekebalan tubuh,” jelas Prof. Erlina.

Selain skrining aktif, pemanfaatan teknologi juga membantu upaya penemuan kasus TBC. Salah satunya melalui kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang digunakan untuk menganalisis hasil rontgen dada.

Prof. Erlina menjelaskan, teknologi seperti CAD4TB® (Computer-Aided Detection for Tuberculosis) perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan (AI) bisa membantumengidentifikasi kelainan pada citra rontgen yang mengindikasikan kemungkinan TBC. Hasil analisis tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan tenaga kesehatan untuk menentukan individu yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Meski begitu, Erlina menekankan teknologi ini juga berpotensi mendukung skrining di wilayah yang memiliki keterbatasan tenaga ahli radiologi.

“Hasil analisis AI tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lanjutan dan penilaian tenaga kesehatan sebelum diagnosis dapat ditegakkan. Karena itu, penerapan teknologi ini perlu diimbangi dengan akurasi yang terjaga, infrastruktur yang memadai, serta kapasitas tenaga kesehatan dalam menggunakannya,” kata Erlina.

Skrining Harus Diikuti Pemeriksaan dan Pengobatan

Lebih lanjut, Erlina mengingatkan bahwa keberhasilan penanggulangan TBC tidak cukup diukur dari banyaknya orang yang menjalani skrining. Orang yang terindikasi TBC juga harus memperoleh pemeriksaan lanjutan, diagnosis yang tepat, dan pengobatan sesuai anjuran.

“Setiap orang yang terindikasi TBC perlu mendapatkan akses terhadap pemeriksaan lanjutan, diagnosis yang tepat, dan pengobatan sesuai anjuran. Karena itu, perluasan skrining harus berjalan beriringan dengan penguatan layanan diagnostik, akses pengobatan, pendampingan pasien, serta kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat,” jelasnya.

Menurut Erlina, pendekatan yang berkesinambungan diperlukan agar lebih banyak kasus TBC dapat ditemukan dan ditangani. Upaya tersebut juga menjadi bagian penting dalam mendukung Indonesia menuju eliminasi TBC.

 

Teknologi AI untuk Skrining TBC

CAD4TB dari Delft Imaging merupakan teknologi berbasis kecerdasan buatan yang digunakan untuk melakukan skrining tuberkulosis (TBC).

Salah satu teknologi yang digunakan untuk mendukung skrining TBC di Indonesia adalah CAD4TB dari Delft Imaging. Teknologi berbasis kecerdasan buatan ini disebut telah digunakan untuk melakukan skrining terhadap lebih dari dua juta orang di Indonesia. CAD4TB membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi individu yang memiliki indikasi TBC berdasarkan analisis citra rontgen dada.

CEO sekaligus Founder Delft Imaging, Guido Geerts mengatakan dukungannya terhadap upaya penanggulangan TBC di Indonesia juga dilatarbelakangi ikatan personal dengan negara ini.

“Bagi saya, mendukung upaya Indonesia dalam mengatasi TBC bukan sekadar komitmen profesional, tetapi juga memiliki makna pribadi. Ibu saya lahir di Indonesia, dan sepanjang hidup saya, saya memiliki ikatan yang kuat dengan negara ini, masyarakatnya, dan budayanya. Melihat dampak TBC yang masih dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah semakin memperkuat tekad saya untuk berkontribusi dalam mewujudkan masa depan di mana tidak ada lagi keluarga yang harus menghadapi penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan ini,” tutur Guido. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya