Liputan6.com, Jakarta - Pengobatan tuberkulosis (TB) paru aktif yang standar berlangsung sekitar enam bulan ata lebih. Namun ada juga yang bisa empat bulan tapi tidak bisa diterapkan kepada semua pasien karena bergantung pada kondisi dan jenis TBC yang dialam
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr dr Desdiani, SpP, MKK, MSc menjelaskan, regimen standar untuk kasus baru TBC paru aktif yang sensitif terhadap obat umumnya berlangsung selama enam bulan atau lebih, yakni dengan pola 2HRZE/4HR.
Pada dua bulan pertama, pasien mendapatkan kombinasi empat obat yaitu isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Pengobatan kemudian dilanjutkan selama empat bulan menggunakan isoniazid dan rifampisin.
Advertisement
Memang penelitian menunjukkan bahwa durasi pengobatan TB dapat dipersingkat dalam kondisi tertentu. Saat ini, salah satu regimen pengobatan TBC aktif yang dapat diberikan selama empat bulan menggunakan kombinasi rifapentin, isoniazid, pirazinamid, dan moksifloksasin.
Regimen tersebut didasarkan pada Study 31/A5349 yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine pada 2021. Penelitian itu menemukan bahwa terapi empat bulan tersebut tidak inferior dibandingkan regimen standar enam bulan pada pasien TB paru sensitif obat yang memenuhi kriteria penelitian.
“Artinya, efektivitasnya tidak lebih buruk dari terapi standar dalam batas penilaian yang ditentukan,” jelas Desdiani mengutip laman IPB, Minggu (1/11/2026).
Namun, regimen empat bulan yang diuji tanpa moksifloksasin tidak berhasil membuktikan noninferioritas.
“Ini berarti keberhasilan tidak hanya ditentukan lamanya terapi, tetapi juga kombinasi obat,” kata Desdiani.
Regimen empat bulan dapat diterapkan pada sebagian anak dan remaja dengan TB nonberat. Meski begitu, tidak semua pasien anak maupun dewasa dapat menggunakan regimen tersebut. Penentuan terapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan kriteria medis.
Jangan Sampai Terjadi Resistensi
Menurut Dr. Desdiani, penghentian terapi terlalu cepat atau penggunaan regimen yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko kegagalan pengobatan dan kekambuhan. Kondisi tersebut juga dapat berkontribusi terhadap berkembangnya resistensi obat.
“Jika resistensi terjadi, pasien mungkin memerlukan kombinasi obat berbeda, terapi yang lebih kompleks dan berdurasi lebih panjang. Selain itu, pasien TB paru yang masih menular berisiko terus menularkan bakteri kepada orang-orang di sekitarnya,” kata dia.
Desdiani mengingatkan pasien TB dianjurkan tidak menghentikan konsumsi obat sendiri hanya karena batuk mulai mereda atau kondisi tubuh terasa membaik.
Jika mengalami efek samping atau kesulitan menjalani pengobatan, pasien perlu berkonsultasi dengan tenaga medis. Dengan begitu, dokter dapat mengevaluasi kondisi dan menentukan penyesuaian terapi yang tepat tanpa mengorbankan keberhasilan pengobatan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360581/original/074488200_1790655511-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-29T111631.534.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360712/original/030827900_1790662146-cek_fakta_--_BLT_UMKM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4016443/original/049851300_1652011956-roberto-sorin-RS0-h_pyByk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296829/original/098179900_1784027448-Kolom_Pakar_Prof_Tjandra_Yoga_Aditama.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354090/original/017944400_1790002621-WhatsApp_Image_2026-09-21_at_21.37.24.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310672/original/072198900_1785330935-Wakil_Menteri_Kesehatan_RI__Benjamin_Paulus_Octavianus_oleh_Biro_Komunikasi_dan_Informasi_Publik_Kemenkes_RI_Aldi_Rahmanda_Putra__6_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292354/original/015453200_1783592029-Wakil_Menteri_Kesehatan__Benjamin_Paulus_Octavianus.jpg)