Liputan6.com, Jakarta - Membawa anak ke dokter gigi sebaiknya dilakukan sejak dini terutama ketika belum mengalami masalah. Kebiasaan ini penting untuk membantu anak mengenal pemeriksaan gigi sekaligus mengurangi rasa takut saat harus menjalani perawatan.
"Jadi memang kalau yang kita edukasi mulai ke parents adalah bisa ke dokter gigi sedini mungkin. Jadi jangan tunggu anaknya sakit. Karena biasanya kalau anaknya sudah sakit, kondisi mental dia juga udah painful gitu ya," kata dokter gigi lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Ary Agustanti.
Advertisement
Pengalaman pertama anak ke dokter gigi dapat memengaruhi bagaimana mereka memandang pemeriksaan gigi berikutnya. Jika sejak awal anak merasa takut atau tidak nyaman, pengalaman tersebut berpotensi membuatnya semakin enggan datang ke dokter gigi.
"Ke dokter gigi dia makin akan traumatis ketika langsung tindakan di hari pertama. Maka datang ke dokter gigi pada saat dia masih happy, belum ada masalah gigi," tuturnya saat ditemui
Siapkan Anak dari Rumah
Sebelum membawa anak ke dokter gigi, orang tua dapat melakukan persiapan melalui pendekatan yang menyenangkan. Ary menyebut langkah ini sebagai conditioning dari rumah.
Orang tua bisa memanfaatkan video edukasi di YouTube atau animasi kartun yang menggambarkan pengalaman anak saat berkunjung ke dokter gigi.
Dengan begitu, anak memiliki gambaran mengenai apa yang akan mereka temui ketika berada di klinik.
"Jadi dari rumah anak udah punya gambaran. Oh ternyata ke dokter gigi enggak serem ya. Ternyata ke dokter gigi itu seru," kata Ary.
Persiapan ini juga dapat membantu anak merasa lebih familiar dengan lingkungan pemeriksaan. Anak tidak langsung dihadapkan pada situasi yang asing, terutama ketika harus duduk di kursi dokter gigi dan menjalani pemeriksaan.
Selain persiapan dari rumah, suasana klinik juga berperan dalam membangun pengalaman positif bagi anak. Ary mengatakan, klinik tempatnya bekerja menyediakan area bermain khusus anak. Area tersebut memungkinkan anak bermain terlebih dahulu sembari menunggu giliran pemeriksaan.
"Jadi sambil mereka nunggu mereka bisa main. Dan rasanya ambience-nya tuh enggak kayak di klinik gitu," ujarnya.
Ketika anak sudah merasa nyaman dan suasana hatinya baik, barulah mereka dipanggil ke ruang pemeriksaan.
Mengenalkan Secara Perlahan
Ruang pemeriksaan anak juga dibuat dengan dekorasi khusus agar suasananya lebih ramah. Dokter kemudian melakukan pendekatan secara bertahap, dimulai dengan memperkenalkan diri kepada anak.
"Step by step pertama pastinya akan kenalan dulu dengan anak. Mengenalkan dirinya bahwa ini adalah tante atau om dokter gigi," kata Ary.
Bahkan, dokter gigi di kliniknya terkadang menggunakan scrub yang ramah anak untuk membantu mengurangi kesan menakutkan.
"Jadi mereka merasa, oh bukan lagi sosok dokter yang pakai jas putih yang serem," lanjutnya.
Dalam pemeriksaan gigi anak, dokter juga perlu memperhatikan bagaimana anak merespons lingkungan dan alat yang digunakan.
Ary menjelaskan, pemeriksaan dilakukan secara bertahap agar anak terbiasa dengan sensasi alat yang digunakan di dalam mulut.
Jika anak membutuhkan tindakan lebih lanjut, dokter akan terlebih dahulu mengenalkan cara kerja alat tersebut.
"Biasanya anak dikenalin dulu cara alat ini bekerja gimana. Ada sensasi angin, ada sensasi bunyi. Supaya anak enggak kaget pada saat tindakannya langsung dilakukan dalam mulut," jelasnya.
Pendekatan tersebut dilakukan oleh dokter gigi spesialis anak yang telah menjalani pendidikan khusus di bidang kedokteran gigi anak.
Menurut Ary, pendidikan tersebut juga mencakup pemahaman psikologis sehingga dokter dapat menyesuaikan pendekatan dengan perilaku dan karakter masing-masing anak.
"Jadi ada pendekatan khusus yang memang dilakukan mengikuti behavior dan karakter anaknya pada saat duduk di kursi dokter," pungkasnya.