Ilmuwan Indonesia Kembangkan Obat Modern dari Kekayaan Biodiversitas Nusantara

Prof. Raymond kembangkan obat modern berbasis biodiversitas Indonesia melalui riset dan bioteknologi.

oleh Dreyandra Puteri ValzabilbinaDiterbitkan 08 November 2026, 14:00 WIB
Prof. Raymond R. Tjandrawinata mengembangkan obat modern berbasis kekayaan biodiversitas Indonesia melalui penelitian farmakologi molekuler dan bioteknologi untuk menghasilkan inovasi kesehatan. (Foto: unsplash.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kekayaan biodiversitas Indonesia menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi inovasi kesehatan. Berbagai tanaman dan bahan alam Nusantara dapat menjadi sumber pengembangan obat modern melalui penelitian yang menguji kandungan, keamanan, dan khasiatnya secara ilmiah.

Upaya tersebut dikembangkan Prof. Raymond R. Tjandrawinata, Guru Besar Farmakologi Molekuler Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya sekaligus Farmakolog Molekuler Dexa Group. Bersama tim peneliti di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS), ia mengembangkan Obat Modern Alami Integratif (OMAI) sejak 2005.

Melalui penelitian tersebut, kekayaan biodiversitas Indonesia dieksplorasi untuk menemukan bahan alam yang berpotensi dikembangkan menjadi produk farmasi. Pendekatan ini menjadi penting karena penggunaan bahan alam secara tradisional belum cukup untuk memastikan keamanan dan khasiat suatu produk.

Pengembangan obat berbasis bahan alam membutuhkan serangkaian penelitian, mulai dari identifikasi kandungan bahan aktif, standardisasi, hingga pengujian keamanan dan khasiat. Proses tersebut diperlukan agar produk yang dihasilkan memenuhi standar mutu serta ketentuan regulasi.

Menggabungkan Kekayaan Alam dan Teknologi Bioteknologi

Di DLBS, penelitian didukung penguasaan bioteknologi dan farmakologi molekuler. Para peneliti juga memanfaatkan pendekatan omics, seperti genomics, proteomics, dan metabolomics, untuk mempelajari potensi bahan alam Indonesia secara lebih mendalam.

Teknologi tersebut membantu peneliti memahami karakteristik bahan alam hingga tingkat molekuler. Dengan demikian, potensi yang sebelumnya dikenal melalui pengalaman empiris dapat dikaji menggunakan metode ilmiah dan dikembangkan berdasarkan bukti penelitian.

Hasil penelitian selanjutnya diarahkan agar berpeluang menjadi produk farmasi yang memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat. Namun, proses tersebut membutuhkan kesinambungan antara penelitian, pengembangan, pengujian, hingga industri.

Menurut Raymond, pengembangan inovasi kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Indonesia juga membutuhkan ekosistem penelitian yang mampu mendukung lahirnya inovasi berdaya saing global.

"Kita membutuhkan lingkungan penelitian yang kuat, sumber daya manusia yang kompeten, serta teknologi yang memadai agar dapat menghasilkan inovasi yang mampu bersaing secara global," ujar Raymond.

Dia juga menekankan pentingnya perlindungan kekayaan intelektual dalam pengembangan inovasi kesehatan. Dengan dukungan tersebut, hasil penelitian diharapkan dapat dikembangkan menjadi produk yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk memperluas akses terhadap obat yang aman, bermutu, dan terjangkau.

Kolaborasi Penelitian dan Industri Jadi Kunci

Pengembangan obat modern berbasis biodiversitas membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Peneliti dan perguruan tinggi berperan menghasilkan pengetahuan ilmiah, sementara industri farmasi mendukung proses pengembangan agar hasil penelitian berpeluang menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Kolaborasi ini juga membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten serta fasilitas penelitian yang memadai. Tanpa dukungan tersebut, potensi bahan alam Indonesia akan sulit dikembangkan secara optimal menjadi inovasi farmasi.

Pengalaman Raymond di bidang penelitian dan industri farmasi menjadi bagian dari perjalanan pengembangan tersebut. Dia pernah terlibat dalam proyek Spacelab Life Sciences (SLS-1) yang diinisiasi NASA pada 1991 untuk mengkaji osteoporosis pada astronaut dalam kondisi gravitasi nol.

Raymond juga pernah berkontribusi di industri farmasi GlaxoSmithKline di California sebelum kembali ke Indonesia pada awal 2000-an. Perjalanan akademiknya mencakup bidang fisiologi, biokimia, hingga farmakologi molekuler di sejumlah universitas di Amerika Serikat.

Rekam Jejak Raymond di Bidang Biomedis

Kontribusinya dalam penelitian biomedis mendapat sejumlah pengakuan. Pada 2026, Raymond masuk dalam kelompok 7,9 persen teratas pada pemeringkatan Top 1000Scholar kategori Diverse Scientific Research Studies (Biomedical, Law and Theology), dengan H-index 29.

Berdasarkan profil akademiknya di Scholarly Index, dia tercatat memiliki 266 publikasi ilmiah dan 3.279 sitasi. Dia juga menempati peringkat ke-107 dunia dan peringkat pertama di Indonesia dalam kategori Tannin, Tannase and Anticancer Activities.

Sepanjang kariernya, Raymond menerima sejumlah penghargaan, di antaranya Habibie Award bidang Kedokteran dan Bioteknologi, WIPO Medal for Inventor, serta SINTA Award.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya