Ekonomi Tak Pasti Bikin Overthinking, Adjie Santosoputro Bagi 5 Cara Mengelola Pikiran

Kondisi ekonomi yang tak pasti, risiko PHK, harga bahan pangan terus naik membuat sebagian orang alami overthinking akan masa depan.

Diterbitkan 08 November 2026, 06:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketidakpastian kondisi ekonomi saat ini dapat menjadi sumber tekanan bagi sebagian masyarakat. Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga kekhawatiran terhadap masa depan finansial memicu kecemasan berlebihan atau overthinking.

Praktisi mindfulness sekaligus penulis, Adjie Santosoputro, mengatakan kondisi kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni personal dan sosial atau struktural.

Menurutnya, penting bagi masyarakat untuk memahami kedua faktor tersebut agar tidak hanya menyalahkan diri sendiri maupun lingkungan atas kondisi yang sedang dihadapi.

"Jadi memang marilah kita melihat secara utuh. Kondisi mental seseorang itu dipengaruhi oleh nature dan nurture kalau bahasa psikologinya, sisi personal dan sisi sosial, enggak bisa hanya salah satu saja," ujar Adjie dalam acara perayaan 23 tahun QM Financial di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Di tengah situasi yang tidak menentu, Adjie membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang mengelola tekanan psikologis.

1. Berhenti Sejenak dan Sadari Napas

Langkah pertama yang disarankan Adjie adalah menerapkan mindfulness agar seseorang tidak mudah bereaksi secara berlebihan ketika menghadapi situasi sulit.

Menurutnya, seseorang perlu mengambil jeda sejenak dan menyadari napas sebelum merespons keadaan yang memicu emosi.

Dengan begitu, seseorang memiliki kesempatan untuk mengenali perasaan yang muncul dan tidak langsung mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.

2. Bedakan Fakta dan Asumsi Pikiran

Adjie juga mengingatkan pentingnya membedakan kenyataan yang sedang dihadapi dengan asumsi atau narasi yang muncul dalam pikiran.

Ia mencontohkan seseorang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi atau menghadapi situasi ketika pesan yang dikirimkan tidak kunjung mendapat balasan.

Kondisi tersebut merupakan fakta yang mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman. Namun, seseorang perlu berhati-hati agar tidak menambahkan asumsi yang justru memperberat pikirannya.

"Misalnya, kondisi sekarang ini sulit, itu pain, tidak bisa kita sangkal. Tapi hati-hati juga dengan pikiran kita yang bisa menambah penderitaan itu semakin berat," jelasnya.

Adjie menilai, seseorang perlu berfokus pada fakta yang benar-benar terjadi dan tidak larut dalam berbagai kemungkinan negatif yang belum tentu menjadi kenyataan.

3. Jalani Hidup dengan Prinsip One Step at a Time

Paparan media sosial terkadang membuat seseorang merasa harus mencapai banyak hal dalam waktu singkat. Tidak sedikit pula yang ingin segera menyelesaikan berbagai persoalan hidup sekaligus.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang terus memikirkan masa depan hingga kesulitan menikmati dan menjalani kehidupan saat ini.

Adjie menyarankan agar masyarakat menerapkan prinsip one step at a time atau menjalani kehidupan selangkah demi selangkah.

Menurutnya, seseorang tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan hidup dalam satu waktu. Sebaliknya, cobalah mengenali satu langkah kecil yang masih bisa diupayakan setiap harinya.

"Sehingga setiap pagi atau setiap hari: apa one step at a time? Hari ini satu langkah kecil yang bisa aku upayakan apa?," ungkap Adjie.

Ia juga mengingatkan bahwa keinginan untuk segera mengambil langkah besar dapat membuat seseorang semakin terbebani, terutama ketika kondisi yang dihadapi belum memungkinkan.

4. Prioritaskan Hal yang Mendesak dan Penting

Selain menjalani kehidupan secara bertahap, Adjie mengajak masyarakat memilah persoalan berdasarkan tingkat kepentingannya.

Ia menyarankan agar seseorang lebih dahulu mengerjakan hal-hal yang bersifat urgent (mendesak) dan important (penting).

Sebaliknya, terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak mendesak dan tidak penting, seperti mengikuti gosip atau terlalu jauh memikirkan kehidupan orang lain, justru dapat mengalihkan perhatian dari persoalan yang perlu diselesaikan.

"Enggak, kita fokus one step at a time, yang urgent dan important apa. Itu sih," tuturnya.

5. Jangan Membandingkan Perjalanan Hidup dengan Orang Lain

Tekanan untuk mencapai standar tertentu pada usia tertentu juga dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Adjie mencontohkan anggapan bahwa seseorang harus sudah memiliki rumah, mobil, atau tabungan dalam jumlah tertentu ketika memasuki usia tertentu.

Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup dan kondisi yang berbeda-beda.

Ia menjelaskan, kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain bukan satu-satunya cara untuk membangun motivasi. Justru, seseorang dapat kehilangan kesehatan mental ketika terus-menerus mengukur pencapaiannya berdasarkan kehidupan orang lain.

"Justru motivasi terbesar itu adalah self-compassion. Kalau selama ini kita mungkin dijejali dengan psikologi motivasi: kamu harus membandingkan diri dengan orang lain supaya kamu termotivasi. Tapi itu justru akan mengorbankan kesehatan mentalmu ketika kamu terus-menerus membandingkan," kata Adjie.

Dukungan Sosial dan Dana Darurat untuk Membangun Rasa Aman

Selain upaya dari dalam diri, dukungan lingkungan juga memiliki peran penting dalam membantu seseorang menghadapi tekanan hidup.

Adjie menilai masyarakat saat ini membutuhkan lebih banyak ruang untuk saling mendengarkan. Menurutnya, tidak semua orang yang sedang menghadapi masalah membutuhkan solusi. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menemani dan mendengarkan keluh kesahnya.

"Di kondisi sulit ini, kita perlu menunjukkan rasa 'aku nemenin'. Meskipun itu mungkin tidak bisa memberikan solusi, pasangan satunya dengarkan saja. Tidak perlu kasih solusi, tidak perlu ngomong apa pun, dengarkan," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya membangun hubungan sosial dan komunitas agar seseorang tidak merasa menghadapi persoalannya sendirian.

Sementara itu, Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto, melihat rasa aman dari sisi pengelolaan keuangan. Menurutnya, memiliki dana darurat dapat membantu seseorang merasa lebih tenang ketika menghadapi kondisi yang tidak terduga.

Ligwina menjelaskan, dana darurat sebaiknya disiapkan dalam bentuk instrumen yang relatif mudah diakses, seperti tabungan, deposito, reksa dana pasar uang, surat berharga negara (SBN), dan emas.

"Kalau dari aku, rasa aman itu bisa aku dapatkan pada saat aku tenang, amit-amit ada masalah, aku punya uang pegangan. Sehingga rasa aman dan tenang kan sebenarnya bukan pengin kaya orang tuh, dia pengin mendapatkan rasa aman dan tenangnya kan. Itu yang lebih penting tentang perasaan bukan tentang duitnya berapa," jelas Ligwina.

Namun, menurutnya, rasa tenang tidak hanya berasal dari kepemilikan uang. Keterlibatan dalam lingkungan sosial dan komunitas juga dapat membantu seseorang merasa memiliki dukungan ketika menghadapi situasi sulit.