Jutaan Orang Berpotensi Pembawa Sifat, Skrining Talasemia Diperluas

Jutaan orang berpotensi membawa sifat talasemia. Skrining diperluas untuk memperkuat deteksi dini di Indonesia.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 07 November 2026, 20:53 WIB
PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, POPTI, dan Sysmex Indonesia memperkuat kolaborasi skrining talasemia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperluas deteksi dini di Indonesia. (Foto: Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Jutaan orang di Indonesia diperkirakan membawa sifat talasemia tanpa menyadarinya. Kondisi ini menjadi perhatian karena pembawa sifat talasemia umumnya tidak menunjukkan gejala khas. Tanpa pemeriksaan, seseorang bisa saja tidak mengetahui bahwa dirinya berpotensi mewariskan kelainan darah tersebut kepada anaknya.

Data Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) tahun 2024 yang dikutip Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 13.939 penyandang talasemia di Indonesia. Namun, angka tersebut diperkirakan hanya menggambarkan sebagian kecil dari kondisi sebenarnya.

Sekitar tiga hingga 10 persen penduduk Indonesia atau setara dengan 8,5–27 juta orang diperkirakan merupakan pembawa sifat talasemia. Banyak di antara mereka belum mengetahui statusnya. Situasi ini membuat talasemia berpotensi menjadi fenomena gunung es.

Melihat kondisi tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn), Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia memperkuat kolaborasi skrining talasemia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta memperluas deteksi dini talasemia di Indonesia.

Inisiatif ini secara resmi dimulai melalui kegiatan kick-off dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PDS PatKLIn 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Apakah Tujuan Utama dari Skrining Talasemia?

Talasemia merupakan kelainan darah yang memengaruhi produksi hemoglobin. Pada penyandang talasemia mayor, kondisi ini membutuhkan perawatan jangka panjang, termasuk transfusi darah secara berkala sepanjang hidup.

Selain berdampak terhadap kualitas hidup pasien dan keluarga, perawatan tersebut juga membutuhkan sumber daya kesehatan yang berkelanjutan. Oleh sebab itu, skrining dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Pembawa sifat talasemia sering kali tidak mengalami gejala khas. Namun, risiko memiliki anak dengan talasemia mayor perlu diwaspadai apabila kedua orang tua sama-sama membawa sifat talasemia.

Pemeriksaan laboratorium dapat membantu mengenali status pembawa sifat. Dengan mengetahui kondisi tersebut lebih awal, pasangan dapat memperoleh informasi dan konseling medis yang tepat sebelum merencanakan kehamilan.

Ketua Umum PDS PatKLIn periode 2025–2028, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes, Sp.PK, Subsp. KV (K), Subsp. BDKT (K), menegaskan pentingnya kerja sama berbagai pihak dalam memperkuat pencegahan talasemia.

"Pencegahan dan deteksi dini talasemia membutuhkan komitmen dan kolaborasi berkelanjutan. Melalui inisiatif ini, PDS PatKLIn ingin memperkuat peran kedokteran laboratorium dalam memastikan kualitas pemeriksaan, meningkatkan edukasi masyarakat, dan mendorong tindak lanjut yang tepat demi kesehatan generasi mendatang," ujar Teguh.

Kolaborasi Berlanjut hingga Desember 2027

Dalam program ini, Sysmex Indonesia turut mendukung penguatan kapasitas pemeriksaan laboratorium, edukasi berbasis ilmiah, serta sinergi lintas sektor.

Perwakilan Sysmex Indonesia menyampaikan bahwa kontribusi dalam bidang kesehatan tidak hanya berkaitan dengan penyediaan teknologi, tetapi juga mencakup kolaborasi, keahlian medis, dan edukasi. Inovasi teknologi dinilai dapat memberikan dampak lebih besar ketika didukung kerja sama yang kuat.

Rangkaian kegiatan kolaborasi ini dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2027. Sejumlah agenda yang disiapkan meliputi skrining talasemia dan edukasi masyarakat, termasuk dalam momentum Hari Talasemia Sedunia pada Mei 2027.

Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah pemeriksaan yang dilakukan. Peningkatan kesadaran masyarakat, perluasan akses edukasi, serta keberlanjutan kolaborasi juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

Melalui kerja sama PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, POPTI, dan Sysmex Indonesia, skrining talasemia diharapkan semakin luas dan terintegrasi. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya melindungi generasi mendatang melalui deteksi dini dan pencegahan yang berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya