Tuberkulosis Tak Kenal Status Ekonomi, Orang Kaya Bisa Kena

Tuberkulosis (TB), penyakit akibat kuman Mycobacterium tuberculosis dapat menyerang siapa saja.

Liputan6.com, Jakarta - Tuberkulosis (TB) dapat menyerang siapa saja karenanya semua orang perlu mewaspadai penularan penyakit tersebut. Orang kaya maupun pun miskin bisa terinfeksi TB.

"Dulu kan kita mengatakan TB itu orang miskin, orang kurus, orang ekonomi lemah. Sekarang tidak, orang tinggal di Menteng, orang tinggal di Pondok Indah bisa kena TB. Ada di mana-mana," kata Guru besar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K).

Prof Yunus mengatakan penularan TB dapat terjadi di berbagai tempat ketika masyarakat berinteraksi. Mulai dari pusat perbelanjaan, pasar, perkantoran, hingga transportasi umum.

Lebih lanjut, tuberkulosis disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis bisa menular saat bakteri penyebab TB yang tersebar di udara dihirup oleh orang lain. Bakteri penyebab TB bisa tersebar ke udara ketika penderita tuberkulosis batuk atau bersin dan memercikkan dahak atau cairan.

Sekali batuk pasien TB dapat mengeluarkan sampai 3.500 kuman M. tuberculosis. Jumlah bakteri yang dikeluarkan saat bersin bisa berkisar 4.500 sampai satu juta.

Kalau terhirup, bakteri bisa masuk ke saluran pernapasan, menuju ke paru-paru, dan dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Tubuh orang yang terpapar bakteri penyebab tuberkulosis bisa menunjukkan reaksi sekitar enam sampai 14 minggu setelah infeksi.

Prof. Faisal menyampaikan bahwa orang umumnya tidak bisa mengetahui apakah ada orang di sekitarnya yang terserang TB. Jadi, lebih baik melakukan upaya pencegahan untuk menekan peluang terpapar kuman penyebab TB.

Menurut dia, upaya pencegahan antara lain bisa dilakukan dengan memakai masker ketika merasa sakit atau ada orang yang menunjukkan gejala sakit di sekitarnya.

Dia juga menyampaikan pentingnya menjaga daya tahan tubuh. Ketahanan tubuh bisa dijaga dengan menerapkan pola makan sehat bergizi seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik, mencukupkan istirahat, dan mengelola stres.

Prof. Faisal meminta warga tidak merespons penularan TB dengan kekhawatiran berlebihan. Apabila mendapati penderita tuberkulosis di lingkungan sekitar, ia melanjutkan, maka sebaiknya mengecek riwayat kontak anggota keluarga dengan orang yang bersangkutan.

"Kalau ada orang penyakit TB, maka diselidiki di keluarganya ada tidak," katanya mengutip Antara.

Â