Minat Anak Bisa Terlihat Saat Bermain, Orang Tua Perlu Tahu

Minat anak ternyata bisa terlihat saat bermain. Simak cara psikolog Saskhya mengajak orang tua mengamatinya.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 19:17 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Minat anak ternyata bisa terlihat dari aktivitas sederhana yang mereka lakukan sehari-hari, termasuk saat bermain. Orang tua tidak selalu perlu memberikan tes atau mengarahkan anak pada kegiatan tertentu untuk mengetahui hal yang mereka sukai.

Psikolog anak dan keluarga, Saskhya Aulia Prima, mengatakan momen bermain dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengamati ketertarikan anak secara lebih natural. Kuncinya adalah hadir secara utuh dan tidak terlalu banyak memberikan arahan.

"Jadi sebenarnya kalau kita hadir, bukan cuma fisiknya nemenin, tapi secara jiwa kita juga ada di situ, untuk bisa menemukan kira-kira minat anak kita tuh apa sih," kata Saskhya dalam konferensi pers Parentalk Festival 2026 di Tangerang Selatan, Rabu, 30 September 2026.

Menurut Saskhya, orang tua dapat mulai mengenali minat anak dengan memperhatikan aktivitas yang secara spontan menarik perhatian mereka. Misalnya, ketika berada di tempat bermain dengan banyak pilihan, perhatikan wahana atau kegiatan yang pertama kali didatangi anak.

Orang tua juga dapat melihat berapa lama anak mampu bertahan dalam aktivitas tersebut. Jika anak memilih kegiatan yang sama berulang kali atau tetap fokus tanpa harus diarahkan, hal itu dapat menjadi salah satu petunjuk mengenai ketertarikannya.

"Misal sedang di area main dan banyak pilihan, biasanya aku melihat yang disamperin pertama atau misalnya bertahan lama di situ, fokusnya panjang. Jadi sebenarnya dia selalu menemukan hal baru saat berkegiatan, walau kayaknya itu aja," ujar Saskhya.

Ekspresi anak ketika melakukan aktivitas juga tidak kalah penting. Antusiasme, keseriusan, rasa senang, hingga keinginan untuk kembali melakukan kegiatan tertentu dapat menjadi bagian dari pengamatan orang tua.

"Kemudian bisa kelihatan dari ekspresinya, misalnya, dia antusias, serius banget, atau senyum-senyum dan ketawa," ujar Saskhya.

Orang Tua Tak Perlu Terlalu Banyak Mengarahkan

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih natural, orang tua sebaiknya mengurangi intervensi ketika anak sedang bermain. Terlalu banyak instruksi atau koreksi justru dapat membuat anak mengikuti keinginan orang tua.

"Orang tua sukses tuh sebenarnya kita diem aja. Tak perlu banyak kasih jawaban atau menunjuk gitu. Jadi sebenarnya observasinya yang penting kita lakukan," ujar Saskhya.

Orang tua tetap dapat berinteraksi dengan anak, tapi cukup mendeskripsikan apa yang sedang mereka lakukan tanpa menentukan hasil permainan. Cara tersebut memberi ruang bagi anak untuk mengeksplorasi sekaligus menunjukkan ketertarikannya secara alami.

Aktivitas sederhana seperti arts and crafts pun dapat menjadi bahan pengamatan. Dari kegiatan tersebut, orang tua bisa melihat bagaimana anak merencanakan sesuatu, menganalisis situasi, hingga mencari solusi ketika menghadapi kesulitan.

 

Jangan Buru-buru Menetapkan Bakat Anak

Meski permainan dapat membantu mengenali minat anak, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa satu aktivitas merupakan bakat yang akan menetap hingga dewasa.

Saskhya menjelaskan bahwa anak berumur di bawah 8 tahun masih berada dalam fase eksplorasi. Oleh sebab itu, mereka membutuhkan kesempatan untuk mencoba berbagai pengalaman.

"Jadi sebenarnya justru di umur-umur anak, di bawah 8 tahun, itu fase eksplorasi banget, dia mau ngapain. Kalau di masa eksplorasi itu, sebenarnya tugas kita (orang tua) tuh ngasih paparan lebih banyak, supaya dia kenyang, dia lihat options," ujar Saskhya.

Artinya, orang tua dapat mengenalkan berbagai kegiatan dan profesi tanpa buru-buru menentukan satu pilihan untuk anak. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh, semakin banyak pula kesempatan bagi orang tua untuk melihat pola ketertarikan anak.

Saskhya menyebut gambaran mengenai minat anak akan semakin terbentuk setelah mereka melewati berbagai pengalaman eksplorasi.

Dia bahkan menyebut usia sekitar 14 tahun sebagai salah satu waktu ketika anak dinilai sudah melewati cukup banyak fase eksplorasi untuk mengenali minatnya.

Dengan begitu, mengenali minat anak bukan tentang menemukan satu jawaban secepat mungkin. Yang lebih penting adalah memberi ruang, menyediakan beragam pengalaman, lalu hadir untuk mengamati hal-hal yang membuat anak penasaran, senang, dan ingin terus mencoba.