Sering Mengorok Saat Tidur, Orang Obesitas Perlu Waspadai Aritmia

Kebiasaan mengorok pada orang obesitas perlu diwaspadai karena bisa berkaitan dengan gangguan irama jantung.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Orang obesitas yang mengorok saat tidur perlu menjalani pemeriksaan irama jantung. Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia, Rizky Aulia Fanani banyak pasien obesitas terkait atrial fibrilasi yang mengorok.

“Jadi, mengorok ini yang sangat-sangat under-diagnosed, yang sangat jauh dari terapi, bahwa pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrial atau AF, itu banyak yang mengorok,” kata Rizky. 

Mengorok terlebih jika kondisi tersebut disertai OSA yang ditandai dengan berhentinya napas selama beberapa detik ketika tidur. OSA juga dapat menjadi salah satu faktor risiko tersembunyi pada pasien dengan fibrilasi atrium.

Kondisi tersebut dapat berulang selama seseorang tidur. Menurut dia, ketika tubuh kekurangan oksigen, dapat terjadi inflamasi atau peradangan yang dalam jangka panjang dapat mempercepat terbentuknya aterosklerosis atau peradangan pada dinding pembuluh darah sehingga mempermudah terjadinya fibrilasi atrium.

 “Jadi, mengorok ini harus diintervensi. Diintervensi bisa dengan konsultasi dengan dokter,” ujarnya seperti mengutip Antara.

Rizky mengatakan penanganan mengorok dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Jika penyebabnya berkaitan dengan lemak darah, hal tersebut perlu ditangani, sementara jika terdapat alergi, kondisi tersebut dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Ia juga mengatakan gangguan irama jantung atau aritmia dapat muncul pada orang yang pembuluh darah koronernya normal. Dengan demikian, kualitas dan kecukupan tidur perlu diperhatikan.

“Tidurnya harus berkualitas, harus cukup, dan pastikan selama tidurnya yang cukup tadi, jumlahnya cukup, kualitasnya baik, harus ada screening mengorok,” ujar Rizky.

Menurut dia, pemeriksaan awal terkait kebiasaan mengorok dapat dilakukan dengan menanyakan kepada pasangan atau orang yang menjadi teman tidur.

Selain itu, teknologi seperti jam pintar (smartwatch) juga dapat digunakan untuk mendeteksi kualitas tidur dan melihat adanya episode kehilangan atau gangguan selama tidur.

Terkait obesitas, Rizky mengatakan penurunan obesitas dan pengendalian resistensi insulin dapat membantu mengontrol aritmia. Namun, ia menekankan bahwa aritmia memiliki banyak jenis.

Ia menyebut orang dengan obesitas, seperti obesitas morbid, memiliki risiko fibrilasi atrium yang lebih tinggi. Penyakit ini dapat ditangani dengan tindakan ablasi.