Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Keguguran pada Ibu Hamil Trimester Awal

Asap karhutla rentan membuat sumbatan oksigen ke janin.

Liputan6.com, Jakarta - Ibu hamil merupakan salah satu kelompok rentan terhadap asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ibu hamil dengan usia kehamilan di bawah 20 minggu bisa berisiko alami keguguran bila berada di wilayah terdampak asap karhutla seperti disampaikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis kedokteran fetomaternal, Novan Satya Pamungkas. 

"Kondisi ini terutama sangat diwaspadai jika usia kehamilan masihmuda atau di bawah 20 minggu," pesan Novan. 

Dokter yang praktik di RS Pondok Indah - Bintaro Jaya ini memaparkan saat hamil, ibu mengalami peningkatan kebutuhan oksigen serta perubahan pada sistem pernapasan dan sirkulasi darah. Adanya asap karhutla rentan membuat sumbatan oksigen ke janin.

"Asap karhutla mengandung gas beracun seperti karbon monoksida(CO) dan partikel halus mikroskopis (PM2.5). Zat-zat berbahaya ini dapat masuk ke dalam paru-paru dan terikat dengan sel darah ibu, sehingga menghambat pasokan oksigen dan nutrisi yang sangat dibutuhkan janin untuk bertahan hidup," paparnya lewat pesan tertulis menjawab pertanyaan Kesehatan Liputan6.com. 

Asap Karhutla Mengandung Zat Pengganggu Hormon

Faktor lain yang membuat asap karhutla berbahaya bagi ibu janin adalah asap dari pembakaran tidak sempurna ini juga membawa zat pengganggu hormon atau Endocrine-disrupting Chemicals (EDC) seperti dioksin.

Paparan polutan tingkat tinggi ini mengacaukan perkembangan awal kehamilan dan meningkatkan risiko keguguran atau kematian janin di dalam kandungan.

Apa yang Harus Dilakukan Ibu Hamil di Wilayah Karhutla?

Novan mengingatkan ibu hamil yang berada di wilayah terdampak asap karhutla harus lebih meningkatkan kewaspadaan.

"Perubahan fungsi pernapasan, peningkatan metabolisme, serta meningkatnyakebutuhan oksigen selama kehamilan membuat tubuh ibu hamil jauh lebih sensitif terhadap polusi udara dibandingkan dengan orang dewasa sehat lainnya," pesannya. 

Mengingat efek buruk kabuta asap sering kali tidak langsung terasa secara fisik ibu hamil tidak boleh menunggu sampai mengalami sesak napas atau batuk berat untuk mulai melindungi diri. Segera lakukan tindakan pencegahan sejak dini begitu indeks kualitas udara di wilayah Anda mulai memburuk.

 

Novan menyarankan ibu hamil untuk memodifikasi lingkungan dan aktivitas dengan cara mengisolasi udara rumah dengan:

  • Tutup rapat semua pintu, jendela, dan lubang ventilasi saat terlihat adanya kabut asap pekat.
  • Jika menggunakan AC, atur sirkulasinya pada mode internal (resirkulasi udara dalam ruangan)
  • Hidupkan air purifier berfilter untuk menyaring partikel superhalus (PM2.5) di dalam rumah, terutama di dalam kamar tidur.

Novan juga meminta ibu hamil yang berada di wilayah terdampak karhutla untuk tidak keluar rumah jika tidak mendesak. Lalu, untuk ibu bekerja, pertimbangkan untuk mengajukan opsi Work From Home (WFH) kepada instansi tempat bekerja guna menghindari paparan asap di jalan.

Bila berada di luar rumah pakai masker khusus. "Masker kain biasa tidak mampu menyaring partikel mikroskopis asap karhutla. Gunakan masker respirator seperti N95 yang memiliki kemampuan menyaring partikel halus secara efektif jika terpaksa harus keluar ruangan," pesannya.

 

Ibu Hamil Jaga Imunitas

Novan mengingatkan agar ibu hamil di wilayah terdampak karhutla untuk menjaga imunitas dan hidrasi tubuh. Salah satu caranya dengan menuhi kebutuhan cairan dengan mengonsumsi air putih yang cukup.

"Minum membantu mengencerkan lendir dan membersihkan tenggorokan dari iritasi asap," katanya.

Lalu, pastikan juga mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan tetap rutin mengonsumsi multivitamin atau suplemen kehamilan yang diresepkan oleh dokter atau bidan.

 

Kenali Tanda Bahaya 

Ibu hamil harus segera pergi ke fasilitas kesehatan atau menemui dokter spesialis obstetri dan ginekologi jika merasakan keluhan berikut:

  • Gejala pernapasan yang mengalami batuk terus-menerus, sesak napas yang memberat, atau nyeri dada
  • Gejala sistemik ditandai dengan pusing hebat, mual, atau tubuh terasa sangat lemas.
  • Gejala darurat kehamilan, bila keluar flek atau perdarahan dari jalan lahir, keluar air ketuban mendadak, adanya kontraksi rahim (ancaman prematur), atau merasakan gerakan janin yang berkurang tidak seperti biasanya.

Selain itu, pastikan secara rutin memeriksan kehamilan untuk mengetahui kondisi ibu dan janin. 

"Jangan melewatkan jadwal pemeriksaan kehamilan berkala agar kondisi perkembangan janin dan volume ketuban tetap terpantau dengan baik," tutup Novan.

Â