Liputan6.com, Jakarta - Berdasarkan analisis awal Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, harga satu batang rokok adalah Rp 1.078. Harga yang murah membuat anak dan remaja mampu dengan mudah menjangkau produk tembakau.
Dari total populasi remaja usia 13-17 tahun yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 22,09 juta pada 2025, sebanyak 9,24 persen atau 2,03 juta di antaranya adalah perokok.
Mereka mengonsumsi lebih dari 4,17 miliar batang rokok, dengan pengeluaran mencapai USD 272,62 juta (Rp 4,49 triliun). Ironisnya, hampir separuh dari jumlah tersebut, sekitar USD 135,49 juta (Rp 2,23 triliun) masuk ke penerimaan negara melalui pajak rokok secara keseluruhan.
Advertisement
Lantas, apa yang terjadi jika harga rokok dinaikkan 100 persen, misalnya dari Rp 1.000 menjadi Rp 2.000 per batang?
“Ada beberapa studi, saya juga melakukan studi tingkat elastisitas dari konsumsi rokok pada anak itu sekitar 0,6. Artinya, kalau harga rokok dinaikkan 10 persen, maka konsumsi akan turun sekitar 6 persen. Jadi masih di bawah persentase kenaikan harganya,” kata Peneliti Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI) Ridhwan Fauzi kepada Kesehatan Liputan6.com dalam temu media bersama Yayasan Lentera Anak di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
“Berarti kalau dinaikkan 100 persen, dari Rp 1.000 menjadi Rp 2.000, maka konsumsi diperkirakan akan turun sekitar 60 persen,” imbuhnya.
Tak Semua Perokok Langsung Berhenti Saat Harga Naik
Meski begitu, sambung Ridhwan, perhitungannya tidak berhenti di sana. Angka 60 persen harus dibagi dua lagi.
“Kenapa? Karena biasanya ketika terjadi kenaikan harga, tidak semua orang langsung berhenti merokok, tapi mungkin sebagian hanya mengurangi konsumsinya. Misalnya yang tadinya merokok lima batang per hari menjadi dua atau tiga batang,” jelas Ridhwan.
Jika diuraikan lagi, yang betul-betul berhenti merokok akibat kenaikan harga 100 persen itu hanya sekitar 30 persen. Artinya, kalau sekarang prevalensinya sekitar 9 persen, apabila harga naik menjadi Rp 2.000 per batang, maka estimasinya mungkin sisa sekitar 6 persen.
“Jadi sekitar 3 persen berhenti, tetapi masih ada sekitar 6 persen anak-anak yang merokok, jadi angkanya masih cukup besar,” paparnya.
Advertisement
Sulitnya Naikkan Harga Rokok hingga 100 Persen
Selain itu, menaikkan harga rokok sampai 100 persen adalah hal yang cukup sulit. Pasalnya, Indonesia masih menggunakan sistem layer (lapisan).
“Menaikkan harga rokok yang paling murah sampai yang paling mahal tetap membuat rokok di lapisan bawah masih cukup terjangkau.”
Karena itu, selain menaikkan harga, sebetulnya Indonesia juga harus melakukan simplifikasi struktur cukai, agar variasi perbedaan harga tidak terlalu lebar.
“Sebab banyak anak yang tadinya mengonsumsi rokok mahal, ketika harganya naik, bukan berhenti merokok, tetapi justru berpindah ke rokok yang lebih murah,” ujar Ridhwan.
Untuk itu, salah satu rekomendasi pihak Ridhwan adalah simplifikasi struktur cukai yang saat ini ada delapan layer.
“Terlalu banyak, kita termasuk negara dengan struktur cukai rokok yang paling kompleks di dunia,” pungkasnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562012/original/067915900_1776772441-Cek_fakta_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/8967572/original/097145900_1782979764-ridhwan__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257805/original/092292600_1781257252-9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8929510/original/065051700_1782959692-bos7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776148/original/089087200_1782856721-France_s_Kylian_Mbappe__left__celebrates_with_his_teammate_ousmane_dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776140/original/038104800_1782846348-063_2284057834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711662/original/096717100_1782792792-korsel_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8864051/original/078185200_1782929110-063_2284211401.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8933715/original/054098500_1782962062-AP26183008148565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8920532/original/092816500_1782954338-AP26183030266108.jpg)