Panas Ekstrem Landa Eropa, Ahli Ungkap Dampaknya pada Kesehatan

Panas ekstrem dapat memicu heat stroke bila tidak melindungi diri dari paparan suhu tinggi.

Diterbitkan 03 Juli 2026, 11:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan Eropa dilanda cuaca panas ekstrem. Berbagai unggahan di media sosial menunjukkan ban kendaraan yang meleleh, orang berebut air conditioner (AC), hingga menggoreng telur mata sapi hanya dengan sinar matahari.

Menurut ahli kesehatan lingkungan, dokter Dicky Budiman, fenomena ini bukan hal baru tapi memang dalam beberapa tahun terakhir semakin memburuk.

“Dalam tiga tahun terakhir saya menghadiri forum global yang membahas perburukan situasi bumi antara lain perubahan iklim, pemanasan global yang berdampak pada kesehatan manusia dan ancaman penyakit wabah baru,” kata Dicky kepada Kesehatan Liputan6.com lewat pesan suara dikutip pada Jumat (3/7/2026).

Dia menambahkan, gelombang panas ekstrem atau heat wave adalah salah satu bencana iklim paling mematikan di dunia. Bahkan menyebabkan kematian lebih banyak dibandingkan banjir, badai, atau gempa bumi.

“Nah yang perlu dipahami, panas tidak selalu membunuh secara langsung. Jadi, sebagian besar kematian terjadi karena panas memperberat penyakit yang sudah ada. Baik itu penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, dan penyakit paru,” jelas Dicky.

Di Eropa, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut heat stroke sebagai penyebab utama kematian terkait perubahan iklim. Bahkan dalam empat tahun terakhir, sekitar 200 ribu kematian dikaitkan dengan gelombang panas.

“Gelombang panas yang saat ini melanda Eropa menunjukkan bahwa perubahan iklim sudah mengubah cuaca ekstrem menjadi ancaman kesehatan masyarakat,” katanya.

Kenapa Cuaca Panas Bisa Sebabkan Kematian?

Dicky kemudian menjelaskan bahwa cuaca panas bisa berujung pada kematian. Hal ini berawal dari suhu tubuh manusia berupaya bertahan di 36,5 - 37,5 derajat Celsius. Ketika suhu lingkungan sangat tinggi dan kelembapan tinggi, maka mekanisme pendinginan tubuh melalui keringat menjadi tidak efektif.

“Akibatnya terjadi beberapa proses yang berbahaya tapi terjadinya bersamaan. Seperti peningkatan suhu inti tubuh atau hipertermia, kehilangan cairan dan elektrolit, penurunan tekanan darah, gangguan fungsi jantung dan aliran darah ke otak,” kata Dicky. 

Kondisi-kondisi tersebut dapat memicu kerusakan sel akibat respons dari inflamasi sistemik. Inilah yang akan berujung pada kegagalan banyak organ. Pada heat stroke, suhu inti tubuh bisa melebihi 40 derajat Celsius, ini sangat berbahaya karena bisa memicu kerusakan otak, hati, ginjal, jantung bahkan dalam hitungan menit hingga jam.

Heat stroke adalah kegawatdaruratan medis dengan angka kematian yang sangat tinggi,” katanya.