Terapi Stem Cell Berkembang di Indonesia, Mutu dan Keamanan Jadi Perhatian

Terapi stem cell perlu diiringi dengan standar mutu yang memastikan aman dan bermanfaat bagi pasien.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 08:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Terapi sel punca (stem cell) dan turunannya terus dikembangkan di Indonesia sebagai bagian dari kemajuan terapi regeneratif. Di tengah perkembangan tersebut, pengendalian mutu (quality control), keamanan, dan informasi yang benar kepada masyarakat menjadi perhatian.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Strategi Layanan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Dr. dr. Bobi Prabowo, Sp.Em, Subsp.TK(K), M.Biomed, FICEP mengatakan perkembangan terapi sel punca perlu diiringi dengan standar mutu yang memastikan aman dan memberikan manfaat bagi pasien.

Quality control-nya, ini yang kita inginkan bahwa yang dibutuhkan masyarakat ini sel punca itu banyak manfaatnya. Sekretom luar biasa bisa bantu menumbuhkan rambut, mengembalikan pasca-operasi, bahkan anti-aging,” kata Bobi dalam acara “Update Terapi Sel Punca & Turunannya di Indonesia” di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Sel punca merupakan sel yang memiliki kemampuan memperbarui diri (self renewal) dan berdiferensiasi menjadi jenis sel lain. Dengan perlakuan khusus di laboratorium, sel tersebut dapat diperbanyak dan dikembangkan untuk dimanfaatkan dalam terapi berbagai kondisi.

Menurut Bobi, perkembangan teknologi kesehatan juga harus dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat agar pemanfaatan terapi sel punca dilakukan berdasarkan informasi yang tepat.

“Kami bersama Kementerian Kesehatan ingin memastikan bahwa ini benar-benar aman. Dan sampai saat ini untuk terapi-terapi sel punca, bahkan yang paling kencang sekarang Indonesia,” tuturnya mengutip Antara.

Hingga saat ini, lebih dari 3.800 pasien telah menjalani terapi sel punca di RSCM untuk berbagai kondisi, mulai dari patah tulang, osteoarthritis lutut, osteoporosis, stroke, kaki diabetes, luka bakar, hingga kebotakan dan peremajaan kulit.

Terapi sel punca dapat menggunakan sel pasien sendiri (autologous) maupun sel dari donor (alogenik). Penggunaan sel tersebut mencakup rangkaian proses mulai dari pengambilan, penyimpanan, pengolahan hingga pemberian terapi yang harus memenuhi standar mutu, keamanan, dan kemanfaatan.

Pengembangan terapi sel punca di Indonesia diharapkan dapat memperluas pilihan penanganan bagi pasien dengan kondisi tertentu, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi kedokteran secara aman dan bertanggung jawab.