Terpapar Abu Vulkanik, Jangan Abaikan Batuk dan Sesak yang Menetap

Bila gejala batuk, sesak napas, atau rasa berat di dada usai terpapar abu vulkanik menetap maka segera ke dokter untuk dapat penangan.

Diterbitkan 11 September 2026, 15:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sudah tidak terasa lagi di beberapa wilayah. Meski begitu, bagi masyarakat yang mengalami masalah pernapasan usai terpapar abu vulkanik tidak boleh mengabaikannya. 

Pada populasi rentan dengan penyakit penyerta jantung paru, seperti asma, dampak atau keluhan bisa dengan cepat muncul. Bahkan dalam hitungan jam usai terpapar abu vulkanik seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Ihsanul Rajasa dari RS Pondok Indah - Bintaro Jaya.

Terkait berapa lama waktu gejala muncul setelah terpapar, tidak bisa dipastikan secara pasti. Namun, faktor kesehatan seseorang dan lama paparan terhadap abu vulkanik memiliki peranan penting terhadap berat-ringannya gejala yang akan muncul.

Keluhan akut yang paling umum antara lain:

· iritasi hidung dan tenggorokan,

· batuk,

· tenggorokan terasa kering atau gatal,

· mata merah atau terasa perih,

· produksi lendir meningkat,

· mengi/wheezing atau bunyi “ngik” ketika menarik napas

· sesak atau rasa berat di dada.

"Gejala-gejala tersebut dapat menetap hingga 1 minggu setelah terakhir terkena paparan," kata Ihsanul menjawab pertanyaan Liputan6.com. 

Jika memang gejala tersebut masih ada maka perlu mendapat penanganan yang baik agar tidak makin parah.

"Segera periksakan diri apabila muncul sesak napas yang menetap atau memburuk, wheezing, nyeri dada, batuk berat atau berkepanjangan, penurunan toleransi aktivitas, atau perburukan penyakit paru yang sebelumnya sudah ada," pesannya.

 

 

Bila Obat Asma Tak Bikin Keluhan Membaik

Pada penderita asma, kewaspadaan perlu ditingkatkan jika kebutuhan obat pelega meningkat atau gejala tidak membaik meski terapi sudah dilakukan sesuai asthma action plan.

Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa penderita perlu mendapatkan pertolongan medis.

“Pada penderita asma, peningkatan kebutuhan obat pelega atau gejala yang tidak membaik dengan terapi sesuai asthma action plan juga perlu menjadi tanda atau kewaspadaan untuk mencari pertolongan medis,” kata Ihsanul.