Tak Cuma Paru, Asap Karhutla Juga Ancam Kesehatan Jantung

Partikel halus asap karhutla bisa masuk ke aliran darah yang bisa memicu peradangan.

 

Liputan6.com, Jakarta - Dokter yang juga pakar global health security, Dicky Budiman mengungkapkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jangka panjang bisa memengaruhi kesehatan. Dampaknya bisa ke saluran pernapasan hingga jantung. 

Dicky menerangkan asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, dan gas iritan yang dapat mengganggu berbagai organ tubuh, terutama saluran pernapasan.

Pada saluran pernapasan, paparan asap memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk berkepanjangan, bronkitis, kekambuhan asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga penurunan fungsi paru.

Data terbaru dari Kementerian Kesehatan ada 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per 12 Oktober 2026. Dari angka itu, 62.400 kasus ISPA terjadi pada anak usia nol hingga 5 tahun.

Selain pernapasan, dampak asap karhutla juga bisa sampai ke jantung dan pembuluh darah.

"Akan ada peningkatan risiko serangan jantung, stroke dan juga gangguan irama jantung karena partikel halus itu masuk ke aliran darah dan memicu peradangan," tutur Dicky menjawab pertanyaan Liputan6.com lewat pesan suara. 

Selain itu, asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata, kulit, dan tenggorokan, termasuk konjungtivitis atau peradangan pada selaput bening mata.

Dicky juga mewanti-wanti pada kelompok rentan -- seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit kronis -- agar mendapat perhatian khusus.

"Pada ibu hamil, paparan asap berisiko meningkatkan kemungkinan bayi lahir dengan berat badan rendah dan kelahiran prematur," tuturnya.

Paparan asap yang berulang setiap musim karhutla juga berpotensi memengaruhi perkembangan paru-paru anak serta menambah beban penyakit kronis di wilayah terdampak.

 

Tanda Bahaya Akibat Paparan Kabut Asap

Dicky mengingatkan masyarakat agar segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas, napas cepat, napas berbunyi mengi, atau kesulitan bernapas saat beristirahat.

Gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi nyeri atau rasa tertekan di dada, jantung berdebar tidak wajar, pusing hebat hingga pingsan, batuk terus-menerus yang semakin parah, batuk darah, demam tinggi, serta bibir atau ujung jari yang membiru.

"Pada penderita asma atau PPOK bila obat biasa sudah yang biasa dia konsumsi itu sudah tidak membantu  nah itu harus segera mencari pertolongan dari tenaga kesehatan," pesan Dicky.Â