Gelombang Panas Picu Gangguan Tidur, Dehidrasi hingga Kanker Kulit

Gelombang panas berisiko memicu gangguan tidur, dehidrasi, hingga kanker kulit. Kenali cara mencegahnya.

Liputan6.com, Jakarta - Pakar kesehatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko gangguan kesehatan akibat gelombang panas (heatwave). Dampaknya beragam, mulai dari dehidrasi hingga kerusakan kulit dan gangguan kesehatan mental.

Dokter spesialis penyakit dalam ITS, dr. Edwin Nugroho Njoto, menjelaskan bahwa suhu yang melonjak hingga 40 derajat Celsius berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi berat, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia) dan penderita penyakit bawaan, seperti penyakit jantung.

“Kelompok rentan ini sebaiknya menghindari paparan panas matahari terlalu lama,” ujarnya di Surabaya, Rabu, dikutip dari ANTARA, Rabu, 21 Oktober 2026.

Gelombang Panas Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Menurut Edwin, dampak gelombang panas tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kondisi mental. Paparan suhu panas dan kelembapan tinggi dalam waktu lama dapat mengganggu tidur dan memicu perubahan suasana hati.

Risiko ini terutama dihadapi masyarakat yang tidak memiliki akses ke pendingin ruangan di rumah maupun tempat kerja.

“Lingkungan yang panas dan lembab dapat membuat seseorang sulit tertidur dan menjadi mudah marah,” katanya.

Cuaca Panas Berisiko Merusak Lapisan Pelindung Kulit

Sementara itu, dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika Fakultas Kedokteran dan Kesehatan (FKK) ITS, dr. Desiana Widityaning Sari, mengatakan cuaca panas juga berisiko merusak skin barrier atau lapisan pelindung terluar kulit.

Kerusakan lapisan pelindung kulit dapat meningkatkan risiko berbagai masalah, seperti biang keringat, infeksi jamur, kulit terbakar akibat sinar matahari (sunburn), hingga jerawat yang kambuh.

“Penurunan kelembapan kulit membuat paparan bakteri dan virus menjadi jauh lebih mudah,” kata Desiana.

Ia menambahkan, paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang juga berpotensi memicu penuaan dini akibat paparan cahaya (photoaging) dan kanker kulit.

Meski melanin memberikan perlindungan alami pada kulit masyarakat Indonesia, risiko kerusakan akibat paparan sinar matahari yang terakumulasi tetap perlu diwaspadai.

“Penggunaan tabir surya secara rutin sangat penting untuk mencegah kerusakan sel kulit,” katanya.

Tips Mengurangi Risiko Kesehatan akibat Gelombang Panas

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat gelombang panas, Desiana menganjurkan masyarakat minum air minimal 1,5 liter setiap hari, mandi dua kali sehari, serta segera mengganti pakaian yang lembap untuk mencegah infeksi jamur.

“Dengan menerapkan pola hidup bersih dan terlindungi, risiko kesehatan akibat heatwave dapat ditekan,” tuturnya.

Ia berharap masyarakat semakin memahami risiko kesehatan akibat cuaca ekstrem dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten untuk menjaga kesehatan di tengah perubahan iklim.