Jadi Tempat Curhat, Kenali Batasan Diri agar Tak Ikut Terbebani

Sebagai sahabat atau anggota keluarga, sadari kapasitas diri bukan psikolog atau psikiater.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menjadi tempat curhat jangan sampai lupa batasan. Meski tampak sederhana yakni mendengarkan tapi kondisi ini bisa menguras energi. 

“Self-boundaries (batasan diri) membantu kita untuk mengenali batas kemampuan, waktu, energi emosional, dan tanggung jawab kita ketika mendukung orang lain,” kata psikolog,Ocha Ananda Suherik.

Membantu dengan memahami batasan diri dapat dilakukan seperti mengenali batas peran. Sebagai teman atau anggota keluarga, kita dapat menjadi sumber dukungan, tetapi tidak harus mengambil alih peran psikolog atau psikiater.

Selain itu, juga perlu sadari kapasitas emosional diri sendiri, sebelum membantu orang lain.

“Jika ternyata di momen tersebut energi dan emosi belum cukup memadai, atau isu yang disampaikan terlalu berat, komunikasikan batasan secara jelas dan empatik. Dapat pula menawarkan bantuan yang masih sesuai dengan kapasitas diri kita,” ujarnya mengutip Antara.

Ocha juga mengatakan merespons ketika seseorang mulai terbuka mengenai masalah yang dialaminya, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa bercerita bukanlah hal yang selalu mudah.

“Bisa jadi, orang tersebut sudah mempertimbangkan cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk berbagi,” tutur dia.

Dalam merespons hal tersebut, beberapa yang bisa dilakukan seperti mendengarkan orang tersebut tanpa menghakimi dan tidak terburu-buru untuk memberikan solusi.

Berikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menyampaikan pengalamannya sesuai dengan kesiapan dan kecepatannya sendiri.

Kemudian, memberikan validasi emosi, yaitu mengakui bahwa perasaan seseorang nyata dan layak untuk dipahami berdasarkan pengalaman yang sedang dihadapinya.

“Perlu dibedakan bahwa memvalidasi emosi bukan berarti selalu membenarkan seluruh pemikiran atau perilaku seseorang,” kata psikolog lulusan Universita Indonesia itu.

Ocha mengatakan kita dapat memahami bahwa seseorang merasa sangat marah, misalnya, tanpa membenarkan tindakan menyakiti orang lain yang muncul dari kemarahan tersebut.

Dengan demikian, pendengar tetap bisa menunjukkan empati sekaligus mempertahankan batasan yang sehat.

“Tanyakan bantuan seperti apa yang ia butuhkan. Hindari membandingkan atau mengecilkan masalahnya. Jaga kepercayaan dan privasinya,” kata Ocha.