Dokter Gia Ungkap Pernah Obesitas, Ini Momen yang Bikin Mantap Jalani Hidup Sehat

Berat badan dokter Gia pernah capai 100 kg. Ini momen yang mengubahnya untuk jalani gaya hidup lebih sehat.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 07 Mei 2026, 16:00 WIB
Cerita Dokter Gia Sempat Alami Obesitas, Ini Peristiwa yang Bikin Mantap Jalani Hidup Sehat, Jakarta (7/5/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Dokter Gia Pratama bercerita bahwa dirinya sempat mengalami obesitas. Berat badannya bahkan sempat mencapai 100 kg.

“Iya, saya pikir dulu nurunin berat badan cuma 50 persen jaga makanan, 50 persen olahraga. Ternyata salah, jaga makanan cuma 20 persen, olahraga cuma 20 persen, 60 persennya niat dan keikhlasan menjalankan si 40 persen itu,” kata dokter sekaligus pemengaruh itu dalam temu media di gedung Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Dengan berat badan berlebih, ia disadarkan bahwa proses menggemuk tidak terjadi dalam satu hari, begitu pula menurunkannya. Dia berkisah, satu peristiwa yang membuatnya mantap untuk menurunkan berat badan dan hidup lebih sehat adalah ketika ia dihadapkan dengan pasien jantung.

“Saya dihadapkan di depan wajah sendiri, pasien masalah jantung, pasiennya seumuran saya, tanggal lahirnya sama, 31 Agustus,” ucapnya.

Pasien itu juga obesitas sehingga membuat Gia sadar bahwa dirinya harus berubah demi menjaga kesehatan. Ia pun mulai melakukan olahraga disertai defisit kalori.

“Olahraga yang terbaik adalah olahraga yang dilakukan, bukan yang diangan-angan, bukan yang direncanakan, balik lagi ke niatnya,” katanya.

Meski begitu, sebagian orang kerap mengeluh tak punya waktu untuk olahraga karena kesibukan kerja sehari-hari. Menurut Gia, justru olahraga rutin dapat meningkatkan performa kerja.

“Justru kalau mau lebih produktif, kalau mau lebih bagus kinerjanya, ya harus olahraga, itu akan meningkatkan produktivitas. Olahraga yang cukup, nutrisi yang cukup, dan olahraga yang cukup, pasti lebih bagus kok performa kerjanya,” ujarnya.

Dukung Nutri-Level

Gia juga menanggapi soal aturan nutri-level sebagai upaya pencegahan obesitas dan diabetes. Nutri-level adalah label kemasan yang menunjukkan kandungan gula dalam produk minuman manis.

Menurutnya nutri-level lebih mudah dibaca dan dimengerti karena menggunakan alfabet A, B, C, D. Nilai A terbaik dan nilai D terburuk karena kandungan gulanya tertinggi.

“Masa kita nilainya mau D terus? Semuanya kan kalau kuliah maunya nilai A kan? Nah masa makanan juga enggak mau A terus? Ya berarti kita fokusnya ke makanan yang A untuk kita konsumsi,” ujar Gia.

Dia juga optimistis aturan ini bisa membawa manfaat baik di Indonesia. “Kalau nanya optimis ke dokter Gia, pasti sangat optimis dan akan membantu karena kita angka diabetes-nya naik terus, angka gagal ginjal naik terus,” ucapnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya