Hipertensi dan Diabetes Kerap Tanpa Gejala, Wamenkes Ingatkan Pentingnya Cek Kesehatan

Hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol bisa berujung gagal ginjal, serangan jantung hingga stroke. Cek kesehatan sebelum muncul komplikasi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 21 Mei 2026, 06:00 WIB
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, mengungkapkan komplikasi dari hipertensi dan diabetes bisa sampai gagal ginjal. (Foto: Benedikta Desideria/Liputan6.com)

Liputan6.com, Bandung - Hipertensi dan diabetes tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Akibatnya, banyak orang baru menyadari dirinya sakit setelah mengalami komplikasi serius seperti gagal ginjal, serangan jantung, atau stroke.

"Sakit hipertensi dan diabetes ini kan nggak ada keluhannya, setelah berat baru menimbulkan keluhan. Itu bertahun-tahun tergantung tensinya berapa tingginya dan gula darah berapa tingginya," tutur Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus dalam acara bersama BPJS Kesehatan di Bandung, Jawa Barat pada Rabu, 20 Mei 2026.

Pria yang juga dokter spesialis paru ini mengungkapkan kerusakan akibat penyakit yang tidak terkontrol dalam waktu lama sulit dipulihkan. Misalnya pada penderita hipertensi yang mengalami pembesaran jantung atau penyumbatan pembuluh darah.

“Kalau kerusakannya sudah bertahun-tahun, jantung sudah bengkak, pembuluh darah sudah mampet, itu tidak bisa balik lagi,” tegas pria yang karib disapa Beni itu.

Maka dari itu, ia mengingatkan masyarakat untuk melakukan cek kesehatan terlebih saat ini ada program Cek Kesehatan Gratis yang diikuti satu tahun sekali. Program deteksi dini penting biar masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum muncul komplikasi berat.

"Nah kita berusaha mencegah. Jadi kalau bisa orang yang datang ke rumah sakit itu lebih banyak yang datang untuk cek kesehatan, itu intinya," pesan Beni. 

 

Cek Kesehatan Bagian dari Upaya Tekan Beban Biaya BPJS Kesehatan

Beni mengatakan upaya pencegahan tersebut juga dilakukan untuk menekan beban pembiayaan kesehatan, termasuk yang ditanggung BPJS Kesehatan.

Bila merujuk pada jumlah pasien penyakit katastropik seperti gagal ginjal dan serangan jantung. Menurut dia, saat ini jumlah pasien cuci darah mencapai sekitar 156 ribu orang, sementara pasien serangan jantung sekitar 134 ribu orang.

“Bayangkan kalau tahun depan menjadi 200 ribu, berapa triliun pembiayaannya. Padahal itu sudah menyebabkan orang sakit, menyebabkan kecacatan, dan merugikan masyarakat,” ujar Beni didampingi Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito.

Di kesempatan yang sama, Pujo mengungkapkan bahwa pada 2025 biaya tertinggi klaim BPJS terkait dengan penyakit kardiovaskular sebesar Rp 11,83 triliun. Bila ditotal dari 2014 hingga tahun lalu, biaya pelayanan kesehatan untuk diabetes melitus dan hipertensi telah mencapai lebih dari Rp 151 triliun.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya