Bedah Robotik Bantu Tangani Kista Endometriosis yang Tersembunyi

Endometriosis bisa mengganggu aktivitas harian perempuan saat menstruasi tiba.

Diterbitkan 19 Agustus 2026, 14:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang melapisi bagian dalam dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, seperti di indung telur (ovarium) atau tuba falopi. Kondisi ini menyebabkan perempuan kesakitan saat menstruasi.

Tak jarang endometriosis bisa sampai mengganggu aktivitas harian saat menstruasi tiba. Salah satu penanganan yakni dengan mengangkat kista endometriosis. Mengenai metode operasi pengangkatan kista endometriosis dengan bedah robotik karena mampu mengangkat nodul kista yang tersembunyi.

“Jadi endometriosis itu bukan sekadar ada kista atau ada adenomiosis, tapi sering sekali ada endometriosis yang tersembunyi di dalam. Dia bisa masuk ke pleksus sakral, bisa menekan atau menginfiltrasi saluran ginjal atau ureter, sehingga bisa membuat obstruksi dan akhirnya ginjalnya bengkak. Dia juga bisa menginfiltrasi ke usus,” ujar dokter Sita Ayu Arumi SpOG dari Eka Hospital MT Haryono Jakarta.

Pengangkatan endometriosis yang berada di area tersebut bukan tindakan sederhana karena terdapat risiko cedera pada jaringan dan organ penting di sekitarnya. Bedah robotik dapat membantu dokter mengidentifikasi serta membebaskan jaringan tersebut ketika mengangkat nodul endometriosis.

“Dengan bedah robotik ini, sangat membantu supaya kita bisa mengidentifikasi dan membebaskan jaringan-jaringan penting selama kita mengambil nodul endometriosisnya,” kata perempuan pertama yang mendalami teknologi bedah robotik di Indonesia itu.

Keunggulan tersebut berkaitan dengan kualitas sistem kamera 3D teknologi bedah robotik da Vinci Xi yang membantu dokter melihat area operasi dengan pembesaran dan gambaran yang lebih jelas yang membantu dokter melihat struktur anatomi secara lebih detail.

"Ternyata tetap pakai kamera lebih unggul.Kenapa? Karena mata kita punya keterbatasan. Kalau sudah organnya campur darah, terus dia agak sudutnya sempit, mata kita itu tidak bisa awas. Apalagi kalau operasinya mungkin sudah lebih satu jam, lebih dua jam," tutur perempuan yang mengambil fellowship bidang bedah robotik di Belanda itu.

 

Nyeri Lebih Ringan

Teknik bedah robotik memungkinkan dokter bekerja melalui sayatan kecil kisaran 0,8 hingga 1 cm. Selain membantu dokter melakukan tindakan lebih presisi di area panggul yang sulit dijangkau, teknik ini juga disebut dapat membuat nyeri pascaoperasi lebih ringan dibandingkan laparoskopi konvensional.

Sita, menjelaskan ukuran luka pada bedah robotik dan laparoskopi sama-sama relatif kecil. Namun, perbedaan terdapat pada kestabilan instrumen saat digunakan selama operasi.

“Walaupun sama-sama lukanya ukurannya sama, tetapi untuk pain itu jauh lebih bermakna less pain di robotik. Kenapa? Karena dia stabil,” ujar Sita.

Pada laparoskopi konvensional, instrumen yang digunakan dapat bergerak maju-mundur dan bergeser saat dokter melakukan tindakan. Pergerakan tersebut dapat menimbulkan gesekan pada dinding perut dan memicu iritasi.

“Saat kita bekerja, tanpa sadar trokarnya itu bisa maju-mundur, gesekan, maju-mundur, karena pada saat alat kita bergerak, dia akan geser. Nah, gesekan itu ternyata bisa menimbulkan iritasi di dinding perut,” jelasnya.

Sementara pada bedah robotik, trokar bekerja pada pivot point. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi iritasi pada dinding perut dan membantu menekan rasa nyeri setelah operasi.