Liputan6.com, Jakarta - Penanganan pasien kritis di Intensive Care Unit (ICU) kini mulai bergeser dari pola reaktif menjadi prediktif. Jika sebelumnya tenaga medis baru bertindak ketika kondisi pasien memburuk, pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memungkinkan penurunan kondisi pasien diprediksi lebih awal.
Presiden Direktur Siloam International Hospitals, David Utama, mengatakan, perubahan tersebut menjadi bagian dari konsep Hospital of the Future yang dikembangkan Siloam melalui kolaborasi strategis dengan Philips.
Kolaborasi ini salah satunya diwujudkan melalui pembangunan fondasi AI enterprise (Enterprise AI Foundation), termasuk penerapan teknologi Smart ICU. Dalam sistem tersebut, berbagai perangkat medis saling terhubung dan datanya diolah secara otomatis menggunakan AI.
Advertisement
Menurut David, teknologi ini dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus mempercepat respons tenaga medis terhadap kondisi pasien kritis.
"Dulu di ICU setelah pasiennya drop, baru kita bereaksi. Sekarang dengan AI karena semua alatnya itu terhubung, dan datanya itu diolah, 30 menit sebelum pasien itu drop, kita sudah bisa prediksi," kata David dalam acara Media Briefing Philips Future Health Index 2026Â di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Kemampuan memprediksi penurunan kondisi pasien hingga 30 menit lebih awal dinilai dapat menjadi faktor penting dalam mempercepat tindakan medis dan meningkatkan peluang keselamatan pasien.
AI sebagai Co-Pilot Tenaga Kesehatan
Penerapan AI dalam Smart ICU juga dirancang sebagai mitra kerja atau co-pilot bagi tenaga kesehatan. Teknologi ini membantu dokter dan tenaga medis mengolah informasi secara lebih cepat sehingga mereka dapat lebih fokus pada pengambilan keputusan dan penanganan pasien.
David mengatakan bahwa integrasi AI juga dapat mengurangi pekerjaan administratif yang sebelumnya dilakukan secara manual. Salah satunya dalam pembuatan catatan medis.
Percakapan antara dokter dan pasien dapat diterjemahkan dan dikonversikan secara otomatis menjadi medical notes. Dengan demikian, informasi dari konsultasi dapat terdokumentasi dengan lebih efisien untuk mendukung penanganan pasien selanjutnya.
AI Tidak Menggantikan Peran Manusia
Meski memiliki berbagai kemampuan, David menegaskan bahwa AI tetap merupakan alat bantu dan tidak menggantikan peran manusia, khususnya tenaga kesehatan.
"Dari segi klinisi jangan lupa AI ini is not replacing. AI ini enhancing. Secara regulasi, tadi Kemenkes sudah bilang jelas bahwa memang ada aturan-aturan yang harus diberikan," ujar David.
Menurutnya, pemanfaatan AI di sektor kesehatan tetap harus berjalan sesuai dengan regulasi dan menempatkan tenaga medis sebagai pengambil keputusan dalam pelayanan pasien.
Siloam dan Philips Bangun Kemitraan Strategis
David juga menegaskan bahwa kerja sama Siloam dan Philips tidak sekadar hubungan antara rumah sakit dan penyedia teknologi. Keduanya membangun kemitraan strategis untuk mengembangkan dan mengadopsi teknologi yang dinilai dapat memberikan manfaat bagi pelayanan kesehatan.
"Kita (Siloam) sama Philips ini strategic partnership. Bukan hanya vendor relationship aja. Dari teknologi yang dikeluarkan, kalau memang bisa diadopsi dan memberikan manfaat, maka judulnya strategic partnership," pungkas David.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285001/original/066553900_1673179649-Target_Sektor_Wisata_2023-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327521/original/042881300_1787113384-Screenshot_2026-08-19_110246.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/9328143/original/008537100_1787137876-20260819_125923.jpg)