Liputan6.com, Jakarta - Jeroan kerap dikaitkan dengan penyakit kolesterol, asam urat, dan masalah ginjal. Untuk itu, konsumsinya perlu dibatasi. Hal ini berlaku untuk orang dewasa juga anak di atas tiga tahun.
“Ada yang namanya everyday food, ada pula sometimes food, kalau jeroan seperti otak, sumsum itu bisa dibatasi satu bulan sekali. Kalau jeroan lain seperti ati, paru, usus, kalau dibatasi mungkin satu sampai dua kali per bulan itu oke,” kata dokter spesialis anak, Prajnya Paramitha Narendraswari dalam live Instagram bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada 26 Mei 2026.
Advertisement
Sementara, untuk anak-anak usia di bawah dua tahun, konsumsi lemak dan jeroan seperti otak sapi tidak begitu dibatasi. Di usia tersebut, otak anak masih sangat berkembang dan salah satu nutrisi utama dari otak anak adalah lemak.
“Panduan mana pun tidak menyebutkan bahwa anak di bawah usia 2 tahun harus membatasi lemak. Di bawah usia 2 tahun mau dia makan otak, daging iga, gajih sekalipun, kalau di bawah 2 tahun boleh. Tapi di atas usia itu, kita harus batasi konsumsi lemak.”
“Mulai usia Makanan Pendamping Asi (MPASI) enam bulan sampai dua atau tiga tahun, kasih aja gulai otak, setiap hari juga enggak apa-apa,” ujarnya.
Terkait porsi sekali makan, ini tergantung dengan usia anak. Semakin besar usianya maka toleransinya bertambah. Artinya, ukuran lambungnya lebih besar dan metabolismenya juga lebih tinggi.
Khusus konsumsi daging, seperti daging sapi atau kambing, ini bisa diberikan kepada anak sejak memulai MPASI.
“Antara usia enam bulan sampai tiga tahun itu minimal yang dikonsumsi dalam satu hari sekitar 25 hingga 40 gram daging, di luar konsumsi protein yang lain,” ujar dokter yang praktik di RS Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita Jakarta ini.
Pada anak usia yang lebih besar, sebelum masa Sekolah Dasar (SD), konsumsi daging harian bisa sekitar 40 hingga 50 gram per hari.
“Anak yang lebih besar lagi, udah SD, kalau di SD pasti aktivitas meningkat itu konsumsi dagingnya bisa 60 gram dan untuk yang lebih besar lagi bisa 75 gram per harinya,” imbuhnya.
Kandungan Gizi Daging Sapi dan Kambing
Daging sapi dan kambing memiliki kandungan protein yang disebut asam amino esensial. Ini adalah protein yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh.
Selain itu, kedua daging ini juga mengandung zat besi yang berbeda dengan zat besi pada sayuran seperti bayam. Diikuti dengan kandungan baik lainnya seperti vitamin dan mineral.
Sebaliknya, kebaikan daging sapi dan kambing bisa berubah menjadi pemicu penyakit pada anak jika dikonsumsi berlebih.
“Kalau konsumsinya berlebihan apalagi ditambah santan atau digoreng, maka lemak baiknya bisa menjadi lemak trans, jadi lemak jenuh atau lemak yang buruk. Jika lemak ini menumpuk terlalu banyak, maka ada beberapa kondisi yang bisa terjadi, termasuk dislipidemia,” katanya.
Dislipidemia adalah kondisi ketika kadar kolesterol, LDL, HDL, atau trigliserida dalam darah di luar batas normal.
“Ini (lemak jenuh) bisa menumpuk di berbagai macam tempat termasuk pembuluh darah dan berbagai macam organ. Tetapi, memang kalau dibandingkan dengan dewasa, anak-anak lebih jarang mengalami dislipidemia ini,” jelas Prajnya.
Penyakit Kolesterol Kerap Tak Bergejala
Prajnya menambahkan, baik pada dewasa maupun anak, kolesterol tinggi kerap kali asimptomatik alias tidak bergejala.
“Kadang-kadang, gejala pegal-pegal yang dialami itu belum tentu karena kadar kolesterol lagi tinggi.”
Meski begitu masih memungkinkan ada tanda pada beberapa kondisi khusus. Misalnya, penumpukan lemak di area sekitar mata, meski kasusnya sangat jarang terutama pada anak.
Meski gejala sulit terlihat kondisi kolesterol anak bisa diketahui lewat skrining. Menurut Prajnya, skrining kolesterol menjadi hal penting terutama bagi anak yang keluarganya memiliki riwayat penyakit kolesterol dan jantung koroner.
Bagi anak dengan riwayat keluarga, skrining dapat dilakukan lebih awal yakni usia 2, 3, atau 8 tahun. Sedangkan, bagi anak yang tidak memiliki faktor risiko, skrining bisa dilakukan ketika tumbuh lebih besar yakni ketika masuk pubertas 9 hingga 12 tahun dan 17 sampai 18 tahun.