Liputan6.com, Jakarta - Demam berdarah (DB) merupakan salah satu penyakit yang kasusnya mencapai 162 ribu pada 2025 dengan angka kematian 600an. Penyakit akibat virus dengue ini memiliki gejala khas demam tinggi yang mendadak.
"Khas sekali demam mendadak tinggi. Biasanya orangtua atau guru hafal betul (demam muncul) pulang sekolah atau bangun tidur itu mendadak (demam) tinggi," kata Prof Dr dr Anggraini Alam SpA Subsp IPT dari RS Hasan Sadikin Bandung.
Advertisement
Seperti penyakit akibat infeksi virus lainnya, bakal muncul nyeri dan pegal-pegal disertai sakit kepala parah. "Lalu, pada anak yang sudah besar bisa merasakan bola mata yang terasa sakit bukan main," tuturnya dalam bincang bersama Kementerian Kesehatan di Instagram @kemenkes_ri pada Senin, 8 Juni 2026.
Beberapa hari setelah demam dan nyeri hebat muncul, penderita DB dapat mulai mengalami tanda-tanda perdarahan. Gejalanya bisa berupa ruam atau bintik-bintik perdarahan yang muncul di wajah, leher, punggung, maupun dada bagian atas.
Bila memeriksakan diri ke dokter atau tenaga kesehatan, terkadang juga dapat ditemukan bintik-bintik perdarahan di langit-langit mulut dan tenggorokan.
Jika kondisi terus berlanjut, penderita dapat mengalami mual dan muntah, disertai tanda-tanda perdarahan yang lebih jelas, seperti mimisan atau perdarahan di bagian tubuh lainnya."Itu tanda-tanda dari infeksi dengue," kata Wanita yang karib disapa Anggi ini.
Gejala-gejala tersebut merupakan tanda infeksi dengue yang perlu segera mendapatkan perhatian medis.
Upaya Mengurangi Risiko Keparahan Akibat DB
Anggi yang juga Ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan vaksinasi demam berdarah dapat mengurangi risiko seorang anak terkena infeksi demam berdarah berat sehingga menyebabkan kematian.
Infeksi demam berdarah yang berat bisa menyebabkan kebocoran plasma darah atau anak mengalami syok dan kondisi itulah yang dapat menyebabkan kematian pada beberapa kasus demam berdarah.
"Dengan adanya vaksin yang dapat diberikan tanpa melihat pengalaman demam berdarah sebelumnya, diharapkan akan lebih banyak anak yang dapat terlindungi dari demam berdarah," kata Anggraini di kesempatan yang berbeda.
Vaksinasi dapat menurunkan tingkat rawat inap karena demam berdarah sehingga akan mengurangi beban biaya rawat yang signifikan serta kehilangan waktu kerja dan sekolah karena rawat inap.
Vaksinasi demam berdarah untuk anak dan dewasa saat ini telah mendapat rekomendasi dari IDAI dan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Vaksinasi dapat diberikan pada setiap orang dengan rentan umur 6 - 45 tahun, dengan anjuran dari dokter.