Berbagai Penyebab Pelari Kolaps saat Maraton

Penyebab pelari kolaps bahkan meninggal saat maraton atau half marathon tidak selalu karena serangan jantung

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 15 Juni 2026, 12:00 WIB
Ilustrasi penyebab seseorang pingsan bahkan meninggal saat maraton (foto/dok: freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Ajang lari maraton dan half marathon semakin populer di Indonesia. Di balik tren olahraga lari jarak jauh tersebut, masyarakat perlu memahami bahwa maraton bukan sekadar aktivitas olahraga biasa.

Praktisi kesehatan masyarakat, dokter Ngabila Salama, mengatakan tanpa persiapan yang memadai, olahraga ini dapat memberikan beban berat bagi tubuh dan berisiko menyebabkan kondisi darurat medis. Seseorang bisa ambruk atau pingsan bahkan meninggal dunia saat maraton atau half marathon

Mengenai seseorang meninggal saat maraton, Ngabila mengungkapkan penyebabnya bisa bermacam-macam. Tidak selalu karena serangan jantung. 

Salah satu penyebab kematian mendadak yang paling sering terjadi saat ajang lari adalah sudden cardiac arrest atau henti jantung mendadak. Kondisi ini dapat terjadi bahkan pada orang yang tampak sehat dan aktif berolahraga.

"Penyebabnya antara lain kelainan jantung bawaan, gangguan irama jantung, atau penyakit jantung koroner yang tidak terdeteksi," kata Ngabila dalam pesan tertulis kepada Liputan6.com pada Senin, 15 Juni 2026. 

Penyebab selanjutnya bisa juga heat stroke atau serangan panas. Pelari bisa ambruk terutama saat berlari dalam cuaca panas dan lembap.

Heat stroke terjadi ketika suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius sehingga tubuh kehilangan kemampuan untuk mendinginkan diri.

"Gejalanya dapat berupa kebingungan, kehilangan keseimbangan, sempoyongan, sulit menjawab pertanyaan, hingga pingsan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan organ dan kematian," tutur dokter lulusan FK Universitas Indonesia itu.

 

Dehidrasi Berat dan Gangguan Elektrolit

Risiko lain yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi berat akibat kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar melalui keringat.

Namun, terlalu banyak minum air putih juga dapat berbahaya. Ngabila menjelaskan bahwa sebagian pelari dapat mengalami hiponatremia, yaitu kondisi ketika kadar natrium dalam darah turun drastis akibat konsumsi air berlebihan tanpa diimbangi elektrolit.

Kondisi itu dapat menyebabkan sakit kepala, mual, kebingungan, kejang, bahkan kematian jika tidak segera ditangani.

Penyebab lain seseorang bisa ambruk saat maraton adalah rabdomiolisis yakni kerusakan jaringan otot berat akibat olahraga berlebihan. Kondisi ini bisa menyebabkan gagal ginjal akut.

Lalu, dalam kasus lebih jarang terjadi, peserta maraton juga dapat mengalami stroke. Biasanya terjadi pada orang yang memiliki faktor risiko yang mendasari seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, perokok.

 

Persiapan Maraton Tidak Instan

Ilustrasi lari maraton dan half marathon (Ist)

Ngabila juga mengingatkan bahwa persiapan maraton tidak bisa dilakukan secara instan atau hanya dalam hitungan minggu

"Kesalahan terbesar adalah menganggap latihan bisa dicicil seminggu sebelum lomba. Tubuh tidak bisa dibohongi," katanya.

Latihan maraton ideal dilakukan secara bertahap selama berbulan-bulan dengan prinsip progressive overload, yakni peningkatan intensitas dan volume latihan secara perlahan agar tubuh memiliki waktu beradaptasi.

Jangan Paksa Diri Ikut Maraton Saat Sakit

Ngabila mengatakan tidak perlu ikut maraton atau half marathon meski sudah mengeluarkan biaya yang tidak murah untuk pendaftaran. Misalnya demam, flu atau diare sebaiknya tidak perlu ikut karena infeksi meningkatkan risiko gangguan irama jantung dan miokarditis.

“Jika Anda sakit, kehilangan medali jauh lebih baik daripada kehilangan nyawa," tuturnya.

 

 

 

Kenali Tanda Bahaya Saat Maraton

Ngabila menyarankan pelari untuk memahami tubuh masing-masing. Sehingga bila muncul tanda bahaya bisa segera menyadari.

Segera berhenti atau keluar dari lintasan bila muncul:

  • Nyeri dada
  • Sesak napas tidak wajar
  • Pusing berat
  • Pandangan gelap
  • Jantung berdebar tidak teratur
  • Kebingungan
  • Mual hebat
  • Kram seluruh tubuh

"Jangan malu ya untuk keluar lintasan," kata Ngabila. 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya