Memilih Kontrasepsi Bukan Hanya Tanggung Jawab Perempuan

Kemendukbangga meluncurkan program Ayah Idaman untuk mendorong para ayah atau calon ayah mengetahui pilihan metode kontrasepsi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 01 Juli 2026, 13:00 WIB
Para ayah atau calon ayah mengetahui pilihan metode kontrasepsi. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)

Liputan6.com, Jakarta - Bukan cuma perempuan, lak-laki juga perlu aktif dalam menentukan pilihan kontrasepsi. Untuk mendorong keterlibatan laki-laki, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN meluncurkan Program Kelas Ayah Idaman.

"Program ini dikembangkan sebagai upaya menghadirkan ayah sebagai bagian penting dalam mendukung kesehatan ibu, kesehatan bayi, dan keberhasilan pelayanan KB pascapersalinan," kata Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) Wahidin saat mewakili Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji di Jakarta pada Rabu (1/7/2026).

Wahidin berharap program ini bisa menjadi ruang belajar bagi ayah maupun calon ayah untuk mendapatkan pemahaman yang benar mengenai manfaat KB pascapersalinan. Lalu, pria juga bisa mengetahui pilihan metode kontrasepsi, waktu pelayanan, serta pentingnya mendampingi pasangan dalam proses konseling.

"Selain itu, sebagai cara membangun komunikasi yang baik dengan pasangan saat pengambilan keputusan, serta memperkuat dukungan terhadap pelayanan KB pascapersalinan," ujar Wahidin.

Wahidin melanjutkan, Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia disiapkan menjadi lokus pelaksanaan Kelas Ayah Idaman. Oleh karena itu, pada tahun ini Kemendukbangga/BKKBN terus memperkuat implementasi program tersebut melalui 1.000 TPMB di berbagai kabupaten/kota.

"TPMB ini dipilih karena merupakan fasilitas pelayanan yang paling dekat dengan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, serta keluarganya. Melalui kolaborasi bidan, penyuluh KB, pemerintah daerah, serta berbagai mitra pembangunan keluarga, kami berharap semakin banyak keluarga yang memperoleh informasi yang benar dan pelayanan yang berkualitas," paparnya mengutip Antara.

 

Keputusan Tepat Terkait Perencanaan Keluarga

Wahidin mengatakan Kelas Ayah Idaman tidak hanya diukur dari jumlah kelas yang terbentuk atau meningkatnya capaian pelayanan KB pascapersalinan. Hal yang lebih penting semakin banyak keluarga yang mampu mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga.

Berdasarkan Pendataan Keluarga tahun 2025, peningkatan keterlibatan suami dan keluarga menjadi penentu penting dalam menekan angka kebutuhan ber-KB yang belum terpenuhi (unmet need) sebesar 12,2 persen.

Temuan tersebut diperkuat oleh Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2023 yang menunjukkan bahwa 27,7 persen perempuan yang tidak menggunakan kontrasepsi setelah melahirkan menyatakan salah satu alasannya adalah karena belum mendapatkan izin dari suami atau keluarganya.

"Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pelayanan KB, khususnya KB pascapersalinan, tidak hanya ditentukan oleh akses dan kualitas layanan kesehatan, tetapi juga oleh dukungan keluarga, terutama keterlibatan suami dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, melakukan edukasi kepada ibu saja tidak cukup," ucap Wahidin.

Ia menegaskan, seluruh pihak mesti berkolaborasi untuk memastikan suami memahami informasi yang benar tentang KB, mengetahui risiko kehamilan yang terlalu dekat, serta mengetahui bahwa menjaga jarak kelahiran bukan semata-mata persoalan kenyamanan keluarga, melainkan juga persoalan keselamatan ibu dan bayi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya