Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan perlunya respons cepat antisipasi polusi udara pemicu Infeksi Saluran Napas Akut (ISPA) di puncak kemarau El Nino.
“Pemda (Pemerintah Daerah) wajib siapkan respons cepat antisipasi polusi udara pemicu ISPA,” mengutip keterangan resmi BMKG yang memprediksi puncak El Nino terjadi pada Juli hingga September 2026.
Advertisement
Seperti diketahui, musim kemarau panjang yang lebih panas meningkatkan risiko kebakaran hutan. Di mana asapnya dapat memicu ISPA jika terhirup.
Terkait hal ini, ahli kesehatan Universitas YARSI, Dicky Budiman mengatakan bahwa El Nino bukan penyebab langsung penyakit.
“Jadi, El Nino itu meningkatkan berbagai faktor risiko lingkungan yang akhirnya berdampak pada kesehatan. El Nino umumnya menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan, lahan, dan memperburuk kualitas udara akibat peningkatan konsentrasi partikulat halus,” kata Dicky kepada Kesehatan Liputan6.com melalui pesan suara, Jumat (3/7/2026).
Dicky pun merinci beberapa penyakit yang risikonya meningkat di musim kemarau panjang El Nino, yakni:
- ISPA terutama pada anak dan lanjut usia (lansia)
- Serangan asma yang lebih sering dan berat
- Perburukan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
- Pneumonia
- Iritasi mata, hidung, tenggorokan
- Memperberat penyakit kardiovaskular termasuk jantung dan stroke.
“Karena paparan dari partikel halus PM2.5 meningkatkan peradangan sistemik dan risiko pembekuan darah,” ujar Dicky.
Lebih dari ISPA
Dengan begitu, Dicky menyimpulkan bahwa dampak El Nino dapat lebih luas dari sekadar ISPA.
“El Nino bukan hanya bisa memicu ISPA, El Nino itu bisa membuat suatu potensi wabah baru penyakit. Bahkan, pandemi akibat El Nino juga bisa terjadi secara tidak langsung.”
Misalnya, kasus virus Nipah di Malaysia pada 1990-an. Terjadinya peristiwa ini tidak dapat dipisahkan dari peran El Nino. Sebelum wabah, Malaysia kala itu dilanda El Nino selama satu tahun, hal inilah yang memicu kemarau panjang dan kering. Situasi alam memaksa kelelawar sebagai pembawa virus Nipah melakukan kontak dengan hewan ternak.
“Kelelawar-kelelawar kesulitan mendapatkan makanan, jadi mereka bergerak mendekati pemukiman untuk mendapatkan makanan. Nah, itu adanya di peternakan babi, di situlah terjadi kontak antara kotoran kelelawar jatuh menimpa makanan atau tubuh babi yang akhirnya dimakan.”
Kemudian, babinya kontak dengan manusia sehingga memicu wabah. Ini adalah salah satu contoh dampak tidak langsung dari El Nino.