Liputan6.com, Jakarta - Banyak perempuan mungkin masih memilih obat pereda nyeri yang kurang tepat untuk mengatasi kram menstruasi. Sebuah studi menunjukkan parasetamol lebih sering dibeli dibandingkan ibuprofen untuk meredakan nyeri haid. Lantas, mana yang lebih efektif?
Temuan tersebut berasal dari studi yang menganalisis data transaksi pembelian produk menstruasi dan obat pereda nyeri selama satu dekade, seperti dikutip dari BBC, Selasa (18/8/2026).
Para peneliti menduga parasetamol lebih sering dipilih karena lebih familiar di masyarakat. Meski dapat meredakan nyeri, ibuprofen dinilai lebih sesuai untuk mengatasi kram menstruasi pada banyak orang karena bekerja dengan cara yang berbeda.
Advertisement
Cara Kerja Ibuprofen dan Parasetamol
Ibuprofen merupakan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang dapat mengurangi peradangan sekaligus menekan produksi prostaglandin. Zat ini berperan dalam kontraksi otot rahim saat menstruasi.
Sementara itu, parasetamol terutama bekerja di otak dengan menghambat sinyal rasa sakit. Obat ini juga digunakan untuk membantu menurunkan demam.
Kram menstruasi terjadi ketika otot rahim berkontraksi untuk membantu meluruhkan lapisan rahim. Proses ini melibatkan produksi prostaglandin. Semakin tinggi kadar prostaglandin, semakin berat pula kram menstruasi yang dapat dirasakan.
Peneliti dari University of Nottingham, Inggris, Prof. James Goulding, mengatakan temuan tersebut menunjukkan masih adanya peluang untuk meningkatkan edukasi masyarakat mengenai penanganan nyeri haid. Ia juga menyoroti masih terbatasnya penelitian mengenai cara mengatasi nyeri menstruasi.
Untuk membantu mencegah nyeri haid, lembaga amal Endometriosis UK menyebut ibuprofen dapat mulai dikonsumsi sehari atau beberapa hari sebelum menstruasi, terutama jika seseorang dapat memperkirakan kapan nyeri biasanya muncul.
Namun, ibuprofen tidak cocok untuk semua orang. Karena itu, penting untuk membaca informasi dan aturan penggunaan pada kemasan sebelum mengonsumsinya.
Jika nyeri haid terasa sangat berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari atau menimbulkan kekhawatiran, National Health Service (NHS) atau Layanan Kesehatan Nasional Inggris menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Nyeri menstruasi yang berat dapat menjadi tanda kondisi tertentu, termasuk endometriosis atau fibroid.
Analisis Data Pembelian Obat
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis data kartu loyalitas dari 211 juta transaksi pada jaringan toko ritel di Inggris yang tidak disebutkan namanya. Data tersebut mencakup pembelian 3,4 juta konsumen selama 2006 hingga 2015.
Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLoS Digital Health menunjukkan bahwa parasetamol merupakan obat pereda nyeri yang paling sering dibeli bersamaan dengan tampon dan pembalut.
Sekitar setengah dari seluruh transaksi produk menstruasi juga mencakup pembelian obat pereda nyeri. Dari transaksi tersebut, sekitar dua pertiganya melibatkan obat berbasis parasetamol, sedangkan sepertiganya menggunakan ibuprofen.
Meski demikian, pakar dari University of Bristol, Inggris, Dr. Anya Skatova, mengingatkan bahwa data penelitian tersebut lebih menggambarkan pola pembelian konsumen dan belum sepenuhnya mewakili seluruh perempuan di Inggris.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326998/original/002739300_1787046240-Screenshot_2026-08-18_162316.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4147878/original/074965600_1662436164-Cek_Bansos_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326567/original/092602700_1787027929-Screenshot_2026-08-18_110108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326673/original/065816300_1787032025-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-18T124607.387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2521351/original/058662000_1544509241-rawpixel-1055771-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545951/original/047112300_1775226794-ilustrasi_obat_anti_nyeri.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288842/original/071654400_1783336275-20260706_144034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288493/original/024813600_1783322938-Ketua_Umum_Perkumpulan_Endokrinologi_Indonesia__PERKENI___Prof._Dr._dr._Em_Yunir__SpPD-KEMD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287193/original/014126900_1783188385-Temulawak.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5123862/original/090587400_1738831381-alexander-grey-tr1po6kOWEc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5270840/original/082171100_1751442677-lance-reis-T0fTEKx2nQg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262537/original/059609900_1781834615-maryam__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5234117/original/033181400_1748334919-27c60bc3-d8cc-47c8-98b7-4efe3a3f8e48.jpg)