Liputan6.com, Jakarta - Penanganan obesitas kini tidak hanya mengandalkan pengaturan pola makan dan aktivitas fisik. Pada kondisi tertentu, terapi dapat mencakup penggunaan obat seperti semaglutide hingga tindakan operasi bariatrik.
Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, mengatakan penggunaan semaglutide dan operasi bariatrik sejauh ini dinilai aman berdasarkan data yang telah tersedia.
"Sejauh ini aman-aman aja," kata Yunir.
Advertisement
Namun, penurunan berat badan dalam jumlah besar dapat menyebabkan perubahan pada tubuh, salah satunya kulit yang menjadi kendur atau bergelambir.
Yunir menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan merupakan efek langsung dari obat. Ketika tumpukan lemak di bawah kulit berkurang secara signifikan, kulit yang sebelumnya meregang tidak selalu dapat kembali mengerut.
"Jadi, begitu lemak di bawah kulitnya hilang, otomatis seperti kita pakai baju kegedean. Jadi bajunya harus dikecilin,"Â tambahnya.
Pada kondisi tertentu, kulit yang sudah terlalu kendur dapat ditangani melalui operasi plastik. Kulit yang berlebih akan dibuang atau dipotong, kemudian bentuknya dikembalikan agar lebih sesuai dengan kondisi tubuh setelah penurunan berat badan.
Perlu Diperhatikan Ibu Hamil dan Menyusui
Penggunaan obat untuk terapi obesitas juga perlu diperhatikan pada kelompok tertentu, termasuk ibu hamil dan menyusui.
Yunir mengatakan penggunaan obat pada ibu hamil dan menyusui perlu diwaspadai karena masih ada pertimbangan mengenai kemungkinan pengaruh obat terhadap bayi.
"Biasanya kita mewaspadai, jangan gunakan pada yang ini, ini, ini. Karena salah satunya orang hamil menyusui," ujarnya.
Menurutnya, terapi dapat dipertimbangkan kembali setelah masa menyusui selesai, dengan tetap menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Yunir juga menjelaskan bahwa setiap orang memiliki tingkat metabolisme yang berbeda. Pada orang dengan metabolisme lebih tinggi, pengeluaran energi dapat berlangsung lebih besar.
Sebaliknya, ketika metabolisme lebih rendah, sebagian energi dari makanan dapat disimpan oleh tubuh apabila jumlahnya melebihi kebutuhan.
Perbedaan metabolisme tersebut juga dapat membuat seseorang memiliki respons berbeda terhadap makanan dan aktivitas fisik.
Begadang Bisa Memengaruhi Rasa Lapar
Selain faktor metabolisme, pola tidur juga berpengaruh terhadap kondisi tubuh. Yunir menyoroti kebiasaan begadang, terutama pada pekerja yang harus terjaga hingga larut malam untuk mengejar pekerjaan atau tenggat waktu.
Saat seseorang seharusnya beristirahat tetapi tetap terjaga, hormon stres dapat tetap aktif. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi hormon yang berkaitan dengan metabolisme dan rasa lapar.
"Sehingga hormon-hormon kayak insulin, hormon kortisol itu akan tinggi. Pada waktu dia tinggi itu bikin orang lapar," kata Yunir.
Akibatnya, orang yang sering begadang dapat lebih mudah merasa lapar dan terdorong untuk ngemil pada malam hari. Masalahnya, makanan yang dipilih sering kali merupakan makanan siap saji yang tinggi kalori.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326673/original/065816300_1787032025-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-18T124607.387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326468/original/099669000_1787024744-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-18T104326.425.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296249/original/006576900_1784009127-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T124739.847.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4473827/original/035115500_1687250117-johny-georgiadis-9Wa1HgE1XlA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4857638/original/070950400_1717898392-diana-polekhina-OpB7gkQY9oc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653942/original/060225800_1700313405-henley-design-studio-XbZgARqXROc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324212/original/020908100_1786694254-Ketua_Himpunan_Studi_Obesitas_Indonesia__HISOBI___Prof._dr._Dante_Saksono_Harbuwono__Sp.PD-KEMD__Ph.D._.jpg)