Dokter Gizi: Diet Tak Harus Mengorbankan Kenikmatan Makan

Dokter gizi menjelaskan mengapa diet tak harus mengorbankan kenikmatan makan dan tetap seimbang.

Diterbitkan 18 Agustus 2026, 17:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menjalani diet bukan berarti seseorang harus mengurangi makanan secara berlebihan atau menghilangkan kenikmatan saat makan. Pola makan untuk menurunkan berat badan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan kebiasaan masing-masing individu.

Menurut Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, makan tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan tubuh tapi juga memberikan kenikmatan.

Oleh sebab itu, pola diet tidak bisa disamaratakan untuk setiap orang. "Karena makan itu tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan. Makan itu untuk kenikmatan," ujar Erwin kepada Kesehatan Liputan6.com dalam sebuah kesempatan baru-baru ini.

Dia menekankan bahwa setiap orang memiliki preferensi makanan yang berbeda. Misalnya, seseorang mungkin terbiasa dengan makanan bercita rasa manis, sementara orang lain lebih menyukai makanan pedas. Perbedaan kebiasaan tersebut perlu dipertimbangkan ketika seseorang menjalani diet.

Lebih lanjut, Erwin mengatakan bahwa diet seharusnya tidak membuat seseorang merasa tersiksa. Prinsipnya adalah menyesuaikan pola makan dengan kebutuhan tubuh, bukan mengubah seluruh kebiasaan makan secara drastis.

"Diet itu tidak boleh menyiksa. Dan diet itu tidak untuk mengubah. Diet itu hanya menyesuaikan. Yang terlalu berlebihan kita kurangi. Yang kurang kita tambah. Jadi, seimbang nanti," tambahnya.

Diet Tidak Harus Makan Sedikit

Erwin juga mengingatkan anggapan bahwa diet selalu berarti makan dalam jumlah sedikit. Menurut dia, pasien yang berkonsultasi dengan dokter gizi justru dapat memperoleh porsi makanan yang terlihat cukup banyak karena makanan disusun berdasarkan kebutuhan dan keseimbangan gizi.

"Jadi yang penting adalah makan itu harus sesuai dengan kebutuhan. Itu yang nomor satu. Sesuai dengan kebutuhan, nomor dua harus seimbang," katanya.

Makanan dengan kandungan kalori tinggi perlu dibatasi, sedangkan makanan yang kalorinya tidak terlalu tinggi dapat dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak. Dengan begitu, porsi makanan bisa terlihat banyak, tetapi total kalorinya tetap sesuai kebutuhan.

Selain jumlah makanan, sumber protein juga perlu dibuat beragam. Erwin mencontohkan tren konsumsi telur, termasuk kebiasaan menjadikan telur sebagai menu sarapan setiap hari.

Menurutnya, konsumsi telur dalam jangka panjang bukan masalah. Namun, masyarakat tetap perlu memastikan sumber protein tidak hanya berasal dari satu jenis makanan.

"Tetapi kita harus lihat bahwa sumber protein itu beragam. Analoginya gini, kalau kita disuruh pakai baju yang sama setiap hari, kan bosan. Nah, tubuh juga begitu," ujarnya.

Pola Diet Perlu Disesuaikan

Erwin mengatakan bahwa pilihan sarapan juga tidak harus selalu berupa telur. Seseorang yang terbiasa mengonsumsi lontong sayur atau nasi uduk tetap dapat menjadikannya bagian dari pola makan, dengan memperhatikan komposisi makanan dan kebutuhan tubuh.

Sementara itu, umbi-umbian juga dapat menjadi alternatif sumber karbohidrat, terutama bagi orang yang tidak terbiasa makan nasi pada pagi hari. Namun, pilihan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.

"Yang penting sebenarnya adalah protein harus ada. Kemudian kalau dia suka ada yang manis-manis, itu sudah akhirnya dengan buah," pungkas Erwin.